Ada Pabrik Roti Ilegal Beroperasi di Kediri

Ada Pabrik Roti Ilegal Beroperasi di Kediri
inas Perindustrian dan Perdagangan Lombok Barat meradang. Mereka menemukan pabrik roti ilegal yang beroperasi tanpa izin di Kediri. Pabrik itu pun kemarin diserbu jajaran Disperindag Lobar, Balai Pengawas Obat dan Makanan, Dinas Kesehatan dan Satuan Polisi Pamong Praja. “Kami terima laporan masyarakat. Dan memang benar,” kata Kadisperindag Lobar, Hj Lale Prayitna pada Lombok Post, di sela inspeksi mendadak ke pabrik roti tersebut.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lombok Barat meradang. Mereka menemukan pabrik roti ilegal yang beroperasi tanpa izin di Kediri. Pabrik itu pun kemarin diserbu jajaran Disperindag Lobar, Balai Pengawas Obat dan Makanan, Dinas Kesehatan dan Satuan Polisi Pamong Praja.

“Kami terima laporan masyarakat. Dan memang benar,” kata Kadisperindag Lobar, Hj Lale Prayitna pada Lombok Post, di sela inspeksi mendadak ke pabrik roti tersebut.

Usut punya usut, rupanya pabrik itu telah mulai beroperasi sejak Februari silam. Itu berarti telah empat bulan. Dan sejak itu pun, pabrik terus menerus beroperasi tanpa proses perizinan.

Dalam sehari, pabrik mampu memproduksi hingga 1.500 keping dengan omzet harian rata-rata Rp 15 juta. Yang berarti dalam sebulan, omzet pabrik ini bisa mencapai Rp 450 juta. Roti yang diproduksi kemudian dipasarkan ke Pulau Lombok.

Lantaran tak beroperasi secara benar, maka roti yang diproduksi di pabrik ini kata Lale Prayitna, tidak mencantumkan kode produksi dalam kemasannya. Demikian juga tidak ada label halal, lantaran memang belum mengurus sertifikasi halal ke Majelis Ulama Indonesia. “Tidak ada pula tanda batas waktu kadaluarsa dalam kemasan,” tandas Lale.

Dari segi kebersihan, kemarin Lale dan timnya juga menemukan pabrik yang jauh dari kesan standar kebersihan pabrik pengolah makanan. Sirkulasi udara juga tak memadai. Sementara, pabrik juga tak memasang plang nama sebagai penanda.

Yang aneh, justru di kemasan produknya, tercantum bahwa roti tersebut diproduksi di Bali dan Sulawesi Selatan. Padahal, terang-terangan roti tersebut diproduksi di Kediri, Lombok Barat.

Atas temuan ini, Lale mewarning kepada pemilik pabrik untuk segera mengurus seluruh perizinan. “Kami beri batas waktu sampai Agustus. Kalau tidak, maka pemerintah akan mengambil tindakan tegas,” tandas Lale.

Dilain pihak, penanggung jawab produksi pabrik roti, Popon Susanti berdalih bahwa pihaknya sudahmemulai proses pengurusan izin. Akan tetapi sampai saat ini berkasnya memang belum jadi. “Kami sudah mengurus surat-suratnya,” ujarnya ngeles. Sayangnya, dia tak merinci, kemana surat dan proses perizinan itu diajukan.

Sumber : lombokpost.net

Recent search terms:

Tags:

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply