Bawaslu Endus Keterlibatan ASN di Pilkada 2018

Bawaslu Endus Keterlibatan ASN di Pilkada 2018

MATARAM- Bawaslu NTB mengendus adanya keterlibatan aparatur sipil negara (ASN) saat pendaftaran bakal pasangan calon gubernur dan wakil gubernur 8-10 Januari lalu. Tak hanya satu, namun dua kasus sekaligus kini tengah didalami.

”Hasilnya keluar dalam satu, dua, tiga hari ini,” tegas Ketua Bawaslu NTB M Khuwailid, kemarin.

Untuk kasus pertama, terjadi pada Senin (8/1). Kala itu, seorang ASN berinisial SH didapati turut mengantar HM Suhaili FT dan HM Amin saat mendaftar ke KPU NTB. ASN yang berdinas di Pemkab Lombok Tengah itu ada dalam barisan pendukung lain, dan turut membaur.

”Tapi kami dapati bukti dia ada di sana,” katanya.

Baca Juga :

Karena itu, SH sudah dipanggil Bawaslu NTB. Dia bahkan sudah menjalani tak kurang dari dua jam pemeriksaan. Mengenai apa saja yang ditanyakan, Khuwailid menolak menjelaskannya.

”Itu sudah masuk pokok pemeriksaan,” jawabnya.

Namun yang pasti pertanyaan seputar alasan berada di sana. Padahal jelas, aturan melarang ASN untuk terlibat politik praktis.Keberadaan SH dapat dimasukkan dalam sebuah pelanggaran.

”Tapi keputusannya nanti kita lihat, sekarang masih pendalaman,” tegasnya.

Jika kasus pertama terkait Suhaili-Amin, maka kasus kedua berkaitan dengan Dr H Zulkieflimansyah dan Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah. Serupa namun tak sama, Bawaslu NTB juga menemukan dugaan keterlibatan ASN kala paket Zul-Rohmi mendaftar. Bedanya, bukan ASN langsung yang terciduk Bawaslu, melainkan sebuah kendaraan dinas berjenis bus dengan nomor polisi DR 7361.

”Mobil ini ada di seputaran lokasi pendaftaran,” tegasnya.

Bawaslu menduga, mobil bus tersebut digunakan mengangkut massa Zul-Rohmi yang sempat memadati seputaran kantor KPU pada Rabu (10/1). Terkait waktu pendaftaran Zul-Rohmi dan juga TGH Ahyar Abduh dan Mori Hanafi yang berdekatan, ia mengatakan kecenderungan dugaan lebih pada Zul-Rohmi. Hal itu karena mobil tersebut baru terlihat setelah Ahyar-Mori beranjak meninggalkan lokasi, dan Zul-Rohmi datang bergantian memadati seputaran KPU NTB.

”Kami lebih menduga ini Zul-Rohmi, bukan Ahyar-Mori,” tegasnya.

Bus tersebut tercatat merupakan aset Pemprov NTB. Biro Umum Pemprov NTB sudah dipanggil untuk diklarifikasi. Pemeriksaan juga berlangsung sekitar dua jam lamanya. Dengan puluhan pertanyaan yang diberikan, Bawaslu endalami siapa dalang yang memerintahkan mobil tersebut keluar. Tengah dicari juga siapa yang meminjam, bagaimana prosedurnya, apa tujuannya.

”Kalau benar untuk angkut massa Zul-Rohmi, ya salah,” tegasnya.

Karena terkait ASN, Bawaslu NTB, kata Khuwailid akan meneruskan masalah tersebut pada Komisi ASN. Merekalah yang berwenang memberikan penindakan jika nantinya benar ditemukan ada pelanggaran.

”Soal sanksi, nanti Komisi ASN.Kami hanya mengeluarkan hasil sebagai rekomendasi,” katanya.

Dihubungi terpisah, tim pemenangan Zul-Rohmi, M Nashib Ikroman menegaskan pihaknya taka pernah menggunakan mobil pemerintah daerah. Begitu juga massa yang datang saat pendaftara tak dibiayai tim pemenangan.

“Itu semua partisipasi masyarakat,’’ katanya.

Mengenai tudingan Bawaslu NTB bahwa mobil plat merah itu digunakan massa Zul-Rohmi, Ikroman menegaskan sudah memberikan klarifikasi pada Bawaslu NTB.

“Kami tak pernah pakai mobil pemerintah,” katanya.

Sementara itu Ardani Zulfikar, Tim Pemenangan Suhaili-Amin menegaskan tidak mungkin ada kesengajaan untuk mengerahkan ASN. “Mungkin mereka tak bermaksud ikut mengantar,” katanya.

Namun ia menduga, bisa saja mereka hanya terjebak dalam iring-iringan massa pada saat itu. “Tak mungkin disengaja,” jawabnya. (yuk/r4)

Komentar

Komentar

Source link

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.