Bayang-bayang Broker Tanah di Proyek Global Hub | SUARANTB.com

Bayang-bayang Broker Tanah di Proyek Global Hub | SUARANTB.com

Bayang-bayang Broker Tanah di Proyek Global HubBayang-bayang Broker Tanah di Proyek Global Hub

Kades Gumantar, Lombok Utara, Jafarti dan warganya Basri. (Suara NTB/ars)

Tanjung (Suara NTB) – Asa masyarakat mulai berlabuh di bandar harapan penghidupan yang lebih baik di Global Hub Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Broker… Bayang-bayang Broker Tanah di Proyek Global Hub

Tanjung (Suara NTB) – Asa masyarakat mulai berlabuh di bandar harapan penghidupan yang lebih baik di Global Hub Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Broker tanah pun mulai mengincar tanah-tanah warga di lokasi yang akan dijadikan pusat kegiatan mega proyek ini.

Tapi masyarakat menahan diri untuk investasi lebih menjanjikan ketika menjadi bagian dari pemegang saham di mega proyek itu. Masyarakat setempat tak ingin jadi penonton. Mereka menata sumber daya manusia (SDM).

Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan dengan luas 3.650 hektare masuk daerah pengembangan. Sekitar 1.000 hektare diantaranya akan masuk zona energi Global Hub. Alih-alih tergiur menjual lahan, masyarakat Gumantar memilih untuk bertahan. Sebabnya, mereka tidak ingin disingkirkan.

‘);
}());

‘’Saya tidak ada kekhawatiran. Masyarakat di sini pada umumnya biasa saja. Tidak ada menolak, kita malah berharap untuk segera diwujudkan,” kata Basri, warga Dusun Boyotan Asli, Desa Gumantar ditemui Tim Lipsus Suara NTB di rumahnya, Sabtu malam, 10 Februari 2018.

Dia yang memiliki lahan pertanian seluas 1 hektare. Broker tanah silih berganti menghampiri menawar pembelian dengan harga beragam. Terutama sejak Global Hub gaungnya mulai menguat setahun belakangan ini. Tetapi dia tetap bergeming.

‘’Dari kemarin itu saja yang dibicarakan, soal tanah. Sudah ada imbauan jangan sampai tanah ini dijual karena saya yakini akan ada solusi agar masyarakat tidak rugi,’’ jelasnya.

Gambaran berpikirnya, jika dia menjual tanah, maka keuntungan yang didapat hanya sementara. Uang hasil penjualan tanah tidak bermanfaat berkesinambungan.

Basri sudah membayangkan akan seperti apa nantinya kawasan Kayangan apabila Global Hub terwujud. ‘’Mungkin kita-kita ini tidak dapat secara langsung merasakan. Tapi anak cucu kita nanti. Maka dari itu kita siapkan pendidikannya, agamanya,’’ kata dia.

‘’Sambil kita jaga, kita rawat tanah kita ini. Adik-adik kita, kita persiapkan dengan pendidikan yang tinggi agar nanti tidak hanya menjadi penonton.’’

Kades Gumantar, Jafarti mengemukakan, pihak dari Global Hub belakangan ini intens menjalin koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah desa.

Pengembangan Global Hub, kata dia, akan memberi dampak terhadap 2.022 kepala keluarga yang mendiami Desa Gumantar. Khususnya di Dusun Amor-amor, tempat pelabuhan dengan dermaga besar akan dibangun.

Dia berharap warga Gumantar tidak akan jadi terasing apalagi tersingkir. Malah sebaliknya sebagai salah satu penggerak pembangunan dan pengembangan Global Hub.

‘’Ini nanti dipastikan akan menyerap tenaga kerja yang begitu banyak. Jadi sambil menunggu terealisasi, kita siapkan masyarakat kita agar dapat ikut dalam pembangunan sesuai dengan kemampuannya,’’ kata dia.

Jafarti melanjutkan, jalan pembangunan sumber daya lebih menjanjikan daripada sekadar keuntungan sesaat dari menjual lahan kepada broker. Apalagi saat ini hanya dihargai Rp 3 juta per are-nya.

“Jangan terbawa calo tanah. Karena sepengetahuan kami dari Global Hub nanti akan ada kompensasi dari perusahaan, apalagi ada wacana kepemilikan saham,” terangnya.

Dia mengungkapkan, belakangan ini memang banyak orang yang datang dengan niatan membeli tanah. Tetapi dia bersyukur masyarakatnya belum ada yang tergoda.

‘’Dengan upaya ini, setidaknya nanti Pemda, Global Hub, dan masyarakat punya pemahaman yang sama. Global Hub dapat terealisasi dan masyarakat tidak tersingkirkan,’’ tandas Jafarti.

Dapat Jaminan Pemda

Kebutuhan lahan untuk rencana investasi Global Hub Kayangan, KLU masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemda setempat. Maraknya isu pembelian lahan di masyarakat pun disikapi. Sebab sejauh ini Pemda belum mengeluarkan keputusan menyangkut pembebasan lahan di area tersebut.

Wakil Bupati Lombok Utara, Sarifudin, SH. MH  mengatakan, isu pembebasan lahan agar disikapi bijak oleh masyarakat. Pihaknya selaku pemegang kebijakan di daerah, belum mengeluarkan rambu-rambu terkait kebutuhan lahan di area Global Hub.

Ia meminta agar masyarakat tidak gegabah dengan melepas begitu saja asetnya. Orang per orang yang turun ke lapangan dan menawarkan pembelian lahan bisa jadi calo atau makelar tanah yang datang dengan tujuan untuk bertransaksi demi mendapat keuntungan sesaat.

“Tapi kalau ada yang tidak bersabar, dan ingin menjual. Saya kira ditahan dulu lah. Saat ini pemerintah sedang melakukan upaya terhadap hak-hak masyarakat, baik hak pribadi maupun hak ulayat, ini sedang kita lakukan,” katanya.

Sarif menginginkan, agar masyarakat nantinya bertindak sebagai pemegang saham di Global Hub Kayangan. Sebab kepemilikan saham akan memberikan keuntungan dari divestasi saham yang digelontorkan perusahaan.

Namun demikian, regulasi Perda dan lembaga Perusda yang mendukung komunikasi dengan pihak swasta, sejauh ini belum dibentuk. Dalam waktu dekat Pemda KLU akan berkoordinasi dengan Direktur PT. Global Hub Kayangan di Provinsi guna memastikan hal teknis yang dibutuhkan.

Sebagaimana diketahui, Perda (perubahan) Tata Ruang yang diajukan oleh eksekutif pada tahun 2017 lalu belum dibahas oleh DPRD. Demikian pula, Perusahaan Daerah (Perusda) yang akan mewakili Pemda KLU di PT bersama Global Hub belum terlihat ada langkah pembentukan.  (why/ari)

Source link

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.