Calo Unram Dituntut 2,5 Tahun Penjara

Calo Unram Dituntut 2,5 Tahun Penjara

MATARAM–Dosen Fakultas Kejuruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram (Unram) Hasanuddin  dituntut 2,5 tahun penjara. Tuntutan tersebut dibacakan jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidangnya di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, kemarin (11/1).

Selain Hasanuddin Chaer, terdapat terdakwa lain dalam perkara tersebut. Yakni, Lalu Syukur yang berprofesi sebagai advokat. Untuk terdakwa kedua, JPU menuntutnya dengan hukuman dua tahun penjara.

JPU dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB Wahyudiono menyatakan, kedua telah melakukan penipuan secara bersama-sama.

”Menyatakan terdakwa terbukti bersalah dengan hukuman 2,5 tahun penjara,” kata Wahyudiono membacakan tuntutan Hasanuddin.

Baca Juga :

Sedangkan untuk terdakwa dua, Lalu Syukur, JPU menuntutnya dengan hukuman penjara selama dua tahun. Hukuman yang lebih ringan enam bulan dibandingkan Hasanuddin, karena menurut jaksa uang yang dinikmati Lalu Syukur lebih sedikit.

Dalam dakwaan jaksa disebutkan, dugaan penipuan yang dilakukan terdakwa terkait iming-iming untuk bisa diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Unram. Saat itu, korban yang bernama Kahan Kampanye, menyerahkan uang sejumlah Rp 200 juta secara bertahap.

Tahap pertama, korban menyerahkan Rp 150 juta kepada Baiq Tanti, yang menjadi saksi dalam perkara ini. Baiq Tanti kemudian menyerahkan uang tersebut kepada Hasanuddin dan Lalu Syukur. Setelah diterima, terdakwa satu mengambil bagiannya sejumlah Rp 105 juta, sementara Lalu Syukur mendapat Rp 45 juta.

Kemudian, terdakwa kembali diberikan uang sebanyak Rp 50 juta. Dari pemberian tersebut, dibagi lagi, dengan rincian Rp 15 juta untuk Hasanuddin dan Rp 35 juta menjadi milik Lalu Syukur. Hal tersebut yang kemudian menjadi pertimbangan JPU dalam menuntut terdakwa dua.

Usai tuntutan dari JPU, kedua terdakwa diberikan kesempatan untuk memberi tangggapan. Melalui penasihat hukumnya, DA Malik meminta hakim untuk memberi putusan yang adil. Sesuai fakta persidangan.

”Kami meminta Majelis Hakim untuk membuat putusan seadil-adilnya,” ujar Malik. Pernyataan ini sekaligus sebagai pledoi lisan yang diberikan terdakwa dalam perkara tersebut.

Setelah mendengar tanggapan penasihat hukum, majelis hakim yang dipimpin Didiek Jatmiko memutuskan untuk melanjutkan sidang berikutnya dengan agenda putusan. ”Pekan depan langsung putusan dari majelis hakim,” kata Didiek lantas menutup persidangan.(dit/r2)

Komentar

Komentar

Source link

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.