Jamaludin, Tukang Sayur Keliling yang Sebentar Lagi Pergi ke Tanah Suci

Jamaludin, Tukang Sayur Keliling yang Sebentar Lagi Pergi ke Tanah Suci

Hei….!!! Dia cuma seorang tukang sayur keliling yang sudah uzur. Tapi soal tekadnya, sekeras beton! Keyakinannya, sekuat baja. Dan cita-citanya, setinggi langit.

***

Bukan…bukan…bukan. Cita-cita ayah empat anak itu bukan punya mobil bagus atau punya rumah mewah. Menunaikan ibadah haji dengan hasil jerih payahnya sendiri adalah keinginan terbesarnya.

“Alhamdulillah saya besok berhaji tidak dengan berhutang atau pun menjual harta. Apalagi jual warisan. Iya saya menabung. Tapi yang paling penting saya tidak pernah lepas untuk meminta sama Allah,” ujar Jamaludin saat penulis menghadiri undangan Walimatussafar di kediamannya di Lingkungan Karang Bata Selatan, Kelurahan Abian Tubuh, Kecamatan Sandubaya, Mataram, kemarin.

Baca Juga :

Pria 54 tahun itu menceritakan, dia mendaftar haji tahun 2008 silam. Dana yang dipakai untuk mandaftar adalah hasil keuntungan jualan sayur kelilingnya. “Setiap hari saya setor sisa pendapatan jualan saya lima ribu rupiah di koperasi setempat,” terang pria murah senyum ini.

Sejak tahun 1999 silam, ia memutuskan untuk menjadi penjual sayur keliling dari yang sebelumnya cuma bekerja serabutan. Seperti tukang angkut batu bata. “Awalnya saya cuma menjual tahu tempe, setelah punya modal cukup baru saya lengkapi dengan sayuran dan lainnya,” jelas Jamaludin.

Dari tabungannya itu, tak cuma ongkos haji yang bisa dilunasinya. Tanah berukuran lima are, sepeda motor matic dan menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren di Banyuwangi Jawa Timur, juga salah satu hasilnya.

Soal pendidikan anak-anaknya, Jamaludin juga amat perhatian. “Kita tahu pergaulan anak-anak sekarang ini sudah sangat bebas, tuntutannya juga semakin tinggi. Beda dengan saya dulu. Makanya anak laki-laki saya saya masukan ke pesantren di Banyuwangi supaya agamanya kuat dan wawasannya luas,” tutur Jamaludin.

Sekali lagi, itu semua, kata dia, hasil dari barokahnya selama menjadi penjual sayur keliling. “Saya satu-satunya tulang punggung keluarga. Istri saya cuma ibu rumah tangga, ndak punya pekerjaan,” timpalnya.

Di kawasan Kecamatan Sandubaya, ia beken dengan nama Pak Jamal. Dimata ibu-ibu rumah tangga dia dikenal penjual sayur yang jujur, lugu, dan tidak neko-neko. Buktinya? Penulis menjadi saksi betapa banyaknya ibu-ibu yang menjadi pelanggannya menghadiri acara syukuran haji yang ia gelar kemarin itu.

“Saya minta maaf kalau banyak salah sama ibu,” ujarnya kepada salah seorang pelanggannya disela ngobrol dengan penulis.

Saking lugunya, Jamal juga tidak jarang memberi pelanggannya berhutang.  Bahkan ada yang sampai hari ini belum terbayar. “Paling besar sampai Rp 1.500.000, tapi dia sudah pindah rumah,” ungkapnya.

Baginya, panggilan ke tanah suci itu sudah disampaikan oleh Allah SWT semenjak manusia dilahirkan. “Tinggal kita saja mau atau ndak menjemput panggilan itu. Caranya, ya diawali niat, kemudian pergi mendaftar,” tandas Jamaludin.

Dia bilang, banyak orang yang lebih kaya darinya tapi hatinya belum terketuk untuk mendaftar haji. “Pasang niat yang kuat mas. Dan teruslah minta sama yang di atas. Jangan pernah minta ke orang lain apalagi ke dukun,” pesannya kepada penulis.

Jamaludin adalah pribadi yang taat beribadah dan paham betul soal agama. “Saya dari kecil sudah belajar agama, mungkin kalau otak saya pintar, saya sudah jadi ustad sekarang,” guraunya.

Untuk sementara, tugas menjual sayur keliling ia serahkan kepada suami dari keponakannya. “Saya sudah ajak dia keliling ke pelanggan-pelanggan saya. Dan saya larang dia ambil untung besar ke pelanggan,” terangnya sambil terkekeh.

Jika tidak ada halangan Jamaludin akan berangkat 11 Agustus mendatang, bersama ribuan jama’ah Kota Mataram lainnya. (alfian yusni/r5)

Komentar

Komentar

Source link

Recent search terms:

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.