Kearifan Lokal Jadi Kunci Pengembangan Wisata di Sade | SUARANTB.com

Kearifan Lokal Jadi Kunci Pengembangan Wisata di Sade | SUARANTB.com

Kearifan Lokal Jadi Kunci Pengembangan Wisata di SadeKearifan Lokal Jadi Kunci Pengembangan Wisata di Sade

Suasana di Desa Sade yang ada di Lombok Tengah. (Suara NTB/lin)

Mataram (Suara NTB) – Wisata adat merupakan salah satu jenis wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Di NTB, salah satu destinasi wisata adat yang menjadi tujuan… Kearifan Lokal Jadi Kunci Pengembangan Wisata di Sade

Mataram (Suara NTB) – Wisata adat merupakan salah satu jenis wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Di NTB, salah satu destinasi wisata adat yang menjadi tujuan utama adalah Desa Adat Sade. Kebudayaan yang ada di desa ini menjadi salah satu ciri khas dan seolah-olah menjadi magnet bagi wisatawan untuk datang.

‘);
}());

Banyak hal dilakukan oleh Kepala Dusun (Kadus) di Dusun Sade Kurdap Slake ini untuk membuat masyarakat di desa itu tetap menjaga dan melestarikan budayanya. Salah satunya dengan menghidupkan kembali kearifan lokal di dusun ini. Terbukti, masyarakat semakin sadar bahwa dirinya berada di kawasan destinasi wisata.

“Kita harus memiliki kesadaran sendiri untuk lestarikan budaya kita. Karena ini adalah warisan leluhur yang harus kita jaga. Kalau bukan kita, kita tidak bisa andalkan orang lain untuk menjaganya,” ujarnya.

Setiap hari ratusan wisatawan mendatangi tampat ini, untuk sekadar melihat-lihat dan ada pula yang berbelanja. Pasalnya tempat ini juga menyediakan aneka kerajinan tangan yang dibuat langsung oleh warga di Desa Sade. Meski pekerjaan utama masyarakat di dusun ini adalah bertani, namun kecintaan terhadap budaya dan kesenian tidak pernah dilupakan.

“Kita harus bersama-sama sadar bahwa kita ini menjadi desa atau dusun yang menjadi tujuan wisata. Salah satu caranya yaitu menanamkan kesadaran untuk mencintai warisan dan budaya luhur,”  kata Kurdap Slake.

Beberapa upacara adat dan budaya yang masih tetap dilakukan saat ini yaitu begawe merarik (upacara pernikahan), upacara khitanan, upacara nede hujan (meminta hujan), dan upacara-upacara lainnya.

Bukan hanya itu saja, di dusun ini juga masih ada permainan rakyat yang sering dimainkan oleh pemuda dan warga sekitar, salah satunya betomplekan. Permainan ini dilakukan oleh dua orang pemuda dan beradu menggunakan bambu. Permainan ini menjadi salah satu permainan rakyat yang masih dijaga kelestariannya hingga saat ini.

“Ini adalah salah satu cara kami lestarikan budaya yang kami miliki. Kalau bukan dari kita yang lestarikan, lalu siapa lagi,” ujarnya.

Ada tiga hal utama yang dijadikan sebagai dasar dalam menyambut wisatawan yang datang, yaitu Grasaq, Reeme, dan Lume. Grasaq berarti ramah kepada wisatawan. Ia selalu mengingatkan warganya agar selalu bersikap ramah kepada siapapun yang datang.

Kemudian Lume, yaitu memberikan kesan yang baik kepada siapa saja. Yang terakhir yaitu Reeme yang berati terbuka, sehingga siapa saja dapat mendatangi tempat ini tanpa terkecuali.

Terdapat 150 rumah di desa sade yang dihuni oleh 150 kepala keluarga yang terdiri dari 750 warga. Dusun seluas lima hektar ini sangat mengedepankan kearifan lokal dan sikap kekeluargaan. Hal inilah yang selalu dijaga oleh Kurdap dan warga Sade pada umumnya. (lin)

Source link

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.