Keris Lombok, Pusaka tanpa Mpu

Keris Lombok, Pusaka tanpa Mpu
keris Lombok yang dikenal sejak berabad-abad lampau ternyata sebuah pusaka tanpa mpu.

Lombok.biz – Info Lombok. Keris Lombok. Tradisi adat Sasak mengenal pemakaian keris. Benda ini merupakan lambang kejantanan pria Lombok, disamping menunjukkan status sosial pemiliknya. Namun keris Lombok yang dikenal sejak berabad-abad lampau, kendati memiliki tuah, ternyata sebuah pusaka tanpa mpu. Di sisi lain, fungsi keris pun makin membias, tidak sekadar senjata ataupun menunjukkan status sosial, juga sebagai sarana pengobatan.

———

KERIS acap digunakan dalam upacara perkawinan di Lombok. Pada saat berlangsung sorong serah, ada simbol kau tinduq yang melambangkan kepasrahan mempelai laki-laki terhadap keluarga mempelai perempuan.
Keris pun acap digunakan sebagai piranti pakaian adat. Itu semua memang berangkat dari tradisi kerajaan, yang kemudian menjalar pada upacara perkawinan berbagai lapisan masyarakat. Pasalnya, pengantin diperankan sebagai raja sehari, sehingga ia menggunakan pula keris sebagai bagian dari pakaian adat yang dikenal pada masa kerajaan. Namun bukan berarti keris sebagai benda asing di Lombok. Tradisi membawa gegaman di Lombok berlaku untuk semua golongan dan seluruh lapisan masyarakat. “Gegaman itu baik berupa keris maupun benda tajam lain lebih bersifat fungsional dan dibawa pada saat-saat tertentu,” kata budayawan Lalu Agus Fathurrahman. Hampir seluruh masyarakat Lombok, katanya, masih membiasakan diri dalam soal tersebut, sehingga keris bukan barang yang baru lagi.
Dari segi fungsi, keris Lombok memang sangat dominan sebagai senjata. Karena selama periodisasi abad ke-17 hingga abad ke-19 terjadi berbagai bentuk peperangan antarkerajaan. Peperangan tersebut membuat populasi keris sangat banyak. Menurut pemerhati keris, Lalu Djelenga, keris kala itu diselipkan di pinggang atau dikenal dengan sebutan nyelep. Untuk keperluan perang acap digunakan keris sikep.
Jika dilihat dari beragamnya benda-benda tajam peninggalan bersejarah di Lombok, ada indikasi yang menunjukan pembuatan keris di daerah ini sudah dikenal sejak lama. Kecil kemungkinan keris tidak menjadi bagian di dalamnya mengingat pengaruh Majapahit pun ada di Lombok. Ketika tradisi di Lombok menggunakan keris, itu tidak lepas dari pengaruh era sebelumnya.
Toh rata-rata pemilik keris mengaku tidak tahu asal-usul keris tersebut, karena merupakan warisan secara turun-temurun. Karena menjadi warisan, keris itu pun diistemawakan. Tidak jarang keris tersebut diasap (wukuf) dan diberi bunga. Implikasinya, ia menjadi punya daya magis dan memiliki kelebihan-kelebihan tersendiri.
Menurut peneliti keris, Abbas Surya, keris tergolong mendapat kedudukan istimewa di hati masyarakat. Disamping karena bentuknya yang artistik, pamornya membangkitkan sugesti, dan acap kali dianggap bertuah. Padahal, tuah tidak hanya terdapat di keris, melainkan juga pada benda-benda lain. Karena itu, keris sering digunakan sebagai media pengobatan.
Abbas sendiri mengaku memiliki keris Naga yang juga dipergunakan sebagai media pengobatan. Keris yang diperoleh dari seseorang itu dipercaya masyarakat mampu mengobati penyakit. Namun menurut Abbas, keris itu hanya sebagai alat, sedangkan yang menyembuhkan penyakit seseorang itu adalah Allah. Keris Naga, Singa, Liman dan Sulur, umumnya tergolong berpenampilan mewah dengan sarung terbuat dari gading atau kayu pilihan.
Teknik pengobatan yang diterapkan yakni dengan cara menitikkan air hingga ke ujung keris, kemudian air itu diminumkan kepada pasien yang sedang sakit. Biasanya, pengobatan dengan keris dipakai karena pasien menderita penyakit jogang alias gila. Dengan menggunakan media keris ini, seorang pasien berhasil sembuh dan kemudian menjadi TKI. “Pasien itulah, setelah sembuh kemudian menghidupi orangtuanya,” tuturnya.
Menurut Abbas, keistimewaan keris dengan tuahnya tergantung pada orang yang memegangnya, bukan tergantung dari bahan apa ia berasal dan dibuat oleh siapa. “Namun kadangkala seseorang merasa cocok dengan keris itu, dan tuah bisa dengan sendirinya muncul setelah dilakukan beragam keistimewaan terhadap keris,” ujarnya. “Sering pula terjadi, keris bisa memakan tuannya jika cara-cara yang dilakukan tidak tepat. Misalnya, cara mencabutnya.”
Keris yang dibuat dengan pertimbangan keseimbangan bisa dengan mudah dimasuki tuah. Salah satu yang bisa dijadikan alat ukur yakni keris itu bisa berdiri dalam jangka waktu lama ketika ujungnya disentuhkan ke lantai atau meja. Dari ratusan keris yang dikoleksi di Museum Negeri NTB, terdapat 2-3 keris yang bisa berdiri seperti itu. Harga keris yang memiliki keistimewaan semacam itu bisa mencapai ratusan juta.
Selain keris-keris yang berpenampilan mewah, terdapat pula keris Lombok yang cukup polos dan berukuran kecil yang dikenal sebagai keris selepan. Keris tersebut biasanya diselipkan di pinggang bagian depan di balik baju. Oleh warga Lombok keris semacam ini sering dipergunakan sebagai azimat.
Menurut Kepala Museum Negeri NTB, R. Joko Prayitno, sebagian besar keris yang ada di Lombok datang dari Bali dan Jawa. Dari 260 keris yang tersimpan di museum misalnya, lebih dari 200 buah merupakan keris Lombok, sisanya keris Sumbawa dan Jawa. Namun belum bisa dikatakan keris itu dibuat di Lombok. “Sebab belum ada bukti material pembuatan keris di Lombok,” ujarnya.
Era Majapahit

Diperkirakan, keris dikenal di Lombok pada masa Majapahit abad ke-15. Dalam perkembangan selanjutnya, keris Lombok lebih mirip dengan keris Bali, sedangkan keris Sumbawa baik dari suku Mbojo maupun Samawa, mirip dengan keris Sulawesi Selatan (Bugis Makasar). “Kenyataan akan gaya keris yang berbeda sebagai bukti adanya dua lintasan yang dilalui budaya keris ke NTB, yaitu lintasan utara melalui Bugis masuk ke NTB bagian timur, sedangkan lintasan Barat melalui Bali ke Lombok,” papar Joko.
Kemungkinan besar hal ini berlangsung setelah era keruntuhan Majapahit pada abad ke-15 sehingga Lombok dan Sumbawa menjadi perebutan kekuasaan antara kerajaan Klungkung-Bali dan kerajaan Goa-Makasar yang berakhir dengan perjanjian Sagening, yakni perjanjian antara Raja Dalem Sagening, Klungkung dan Raja Alaudin, Goa, tahun 1624 yang menentukan pembagian wilayah pengaruh antara keduanya.
Akibat pengaruh itu, terdapat perbedaan dari segi ukuran keris. Keris Lombok secara umum berukuran besar dan panjang, yakni antara 58 cm sampai 71 cm. Sedangkan keris Sumbawa berukuran besar dan pendek, yakni antara 34 cm hingga 51 cm. Sementara itu keris Jawa berukuran sedang, antara 49 cm sampai 51 cm.
Walaupun terdapat perbedaan dari segi ukuran, diperkirakan Lombok tidak memiliki mpu pembuat keris, melainkan sebatas sebagai perajin. Dalam berbagai cerita dikemukakan, seorang mpu yang membuat keris secara tradisional kadang tidak merasakan bara api yang ada di tangannya. Bahkan konon pembuatan keris dilakukan dengan menggunakan tangannya. “Memang di Lombok hanya ada perajin keris pada sejumlah pande besi, tetapi belum ditemukan ada mpu keris,” tukas Abbas. (* Riyanto Rabbah)

 

Recent search terms:

Tags:

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.