La Bango

La Bango
La Bango adalah seorang pemuda dari sebuah perkampungan di dekat kaki pegunungan. Dia ingin melamar seorang gadis kaya yang tinggal di kampung tengah. Setelah lamarannya di terima oleh kedua orang tua si gadis, La Bango harus mengabdi (ngge’e nuru) sebagai persyaratan meminang si gadis. Setelah lima hari La Bango tinggal di rumah si gadis, tiba-tiba hujan lebat turun, kemudian ayah si gadis menyuruh La Bango untuk menambal alang-alang atap rumah yang bocor. La Bango pun naik ke atap rumah untuk menambal atap tersebut, tanpa sengaja La Bango menengok ke bawah, tanpa sengaja ia melihat calon kekasihnya sedang mengoles lulur ke seluruh tubuhnya, semua tubuhnya kelihatan, termasuk buah dadanya.

La Bango adalah seorang pemuda dari sebuah perkampungan di dekat kaki pegunungan. Dia ingin melamar seorang gadis kaya yang tinggal di kampung tengah. Setelah lamarannya di terima oleh kedua orang tua si gadis, La Bango harus mengabdi (ngge’e nuru) sebagai persyaratan meminang si gadis.

Setelah lima hari La Bango tinggal di rumah si gadis, tiba-tiba hujan lebat turun, kemudian ayah si gadis menyuruh La Bango untuk menambal alang-alang atap rumah yang  bocor. La Bango pun naik ke atap rumah untuk menambal atap tersebut, tanpa sengaja La Bango menengok ke bawah, tanpa sengaja ia melihat calon kekasihnya sedang mengoles lulur ke seluruh tubuhnya, semua tubuhnya kelihatan, termasuk buah dadanya.

La bango langsung turun dari atap dan berlari pulang kerumahnya untuk menemui ibunya. Sesampainya di rumah ia memarahi ibunya mengapa tak memberitahunya tentang dua buah bisul sebesar cangkir yang dimiliki oleh calon kekasihnya tersebut. Sang ibu memberitahu bahwa itu bukan bisul, tetapi buah dada dan semua perempuan memiliki itu. Tetapi La Bango tetap tidak suka dengan wanita yang dadanya menonjol.

Akhirnya La Bango memutuskan untuk mencari gadis lain dan meminta saran ibunya. Ibunya memberi saran agar mencari gadis yang ramah. Maka pergilah La Bango mencari. Di tengah perjalanan ia menemukan seorang perempuan yang telah meninggal dunia dimanana mulutnya menganga dan matanya terbelalak. La Bango membawanya ke rumahnya kemudian mayat tersebut di ikat di tiang tengah dengan posisi berdiri. Ibunya mencium bau busuk lalu mencari sumbernya. Ternyata berasal dari mayat yang dibawa La Bango. Sang ibupun memarahi La Bango dan menyuruh La Bango menguburkan mayat tersebut. Setelah selesai menguburkan mayat tersebut La Bango mendengar suara kentut ibu dan bapaknya dan mencium bau busuk itu berasal dari kedua orang tuanya. La Bangopun menyeret ibu dan bapaknya untuk dikubur, karena menurutnya semua yang sudah berbau busuk harus dikubur. Tanpa mendengarkan teriakan ibu dan bapaknya La Bango mengubur kedua orang tuanya hidup-hidup. Tak lama kemudian, terdengar bunyi kentut dari pantatnya dan mengeluarkan bau busuk, akhirnya La Bango menguburkan dirinya sendiri, tetapi hanya sebatas leher.

Setelah malam tiba lewatlah dua orang maling yang tak sengaja menyenggol kepala La Bango. Merekapun menolong La Bango dan mengajaknya untuk pergi mencuri. Sesuai kesepakatan La Bango yang masuk ke dalam rumah untuk mencuri dan kedua maling tersebut menunggu di luar. Si maling menyuruh La Bango untuk mencari barang yang terasa berat, La Bango pun membawakannya batu tungku. Kedua maling tersebut memaki La Bango karna kebodohannya. Kemudian maling tersebut menyuruh lagi La Bango untuk mengambil barang yang merah-merah menyala. Kemudian La Bango mengambil barang yang merah menyala yang di tutupi abu di atas tungku. Ia mengais bara api itu, dan membungkusnya dengan sarung. Dalam perjalanan keluar sarungnya terbakar dan bara api tersebut jatuh satu demi satu. Setiap bara api yang jatuh La Bango selalu berkata “Itu sudah jatuh sebiji”.

Mendengar suara La Bango yang punya rumah terbangun, kedua maling yang berada diluar langsung melarikan diri. Sang pemilik rumah terkejut melihat La Bango berada di dalam rumahnya, kemudian dia bertanya mengapa La Bango bisa ada dirumahnya dan apa saja yang telah dicuri. La Bangopun menjawab dia diajak oleh kedua temannya dan menceritakan kejadian tadi. Mendengar kisah pencurian La Bango yang punya rumah tertawa terbahak-bahak dan tidak jadi menghukum Bango. La Bangopun diajak untuk tinggal dirumah tersebut.

Setelah berminggu-minggu pemilik rumah melihat budi pekerti La Bango yang jujur dan patuh. Suatu hari sang pemilik rumah akan pergi ke ladang dan menitipkan anak bayinya untuk dimandikan. Yang punya rumah berpesan agar anak bayinya jangan dimandikan dengan air dingin tetapi dengan air hangat.

Tibalah waktunya madi, La Bango pergi ke dapur untuk memanaskan air. Setelah airnya mendidih La Bango menuangkan air tersebut kedalam sebuah belanga yang biasa dipakai untuk memandikan bayi tersebut. Ia mengambil bayi tersebut dan dimandikannya dalam air yang panas mendidih. Bayi tersebut berteriak, menangis sambil meronta. Kemudian bayi itu mati, kulitnya melepuh. Setelah memandikannya La Bango membungkus anak tersebut dengan kain sarung dan ditaruh kembali ke dalam ayunan.

Tak berapa lama kemudian datanglah yang punya rumah dan menanyakan bayinya sedang apa, apakah sudah dimandikan. La Bango menjawab “Sudah saya mandikan dengan air panas. Tidurnya nyenyak sekali dari tadi belum bangun-bangun”

Orang tua bayi tersebut terkejut dan pergi mendatangi bayinya di ayunan. Dilihatnya kulit bayinya terkelupas dan sudah meninggal. Sang pemilik rumah tak dapat menahan nafsu amarahnya, dipukulnya La Bango dan di usirnya.

Sumber : agathanicole

Tags:

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply