LP2B Masih Jadi Batu Sandungan RTRW Kota Mataram | SUARANTB.com

LP2B Masih Jadi Batu Sandungan RTRW Kota Mataram | SUARANTB.com

LP2B Masih Jadi Batu Sandungan RTRW Kota MataramLP2B Masih Jadi Batu Sandungan RTRW Kota Mataram

Salah satu bangunan hotel di Kelurahan Rembiga yang merupakan salah satu sektor jasa yang diandalkan oleh Kota Mataram untuk peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram pekan kemarin mempresentasikan skenario revisi Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota… LP2B Masih Jadi Batu Sandungan RTRW Kota Mataram

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram pekan kemarin mempresentasikan skenario revisi Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Mataram. Belum ada rekomendasi diperoleh. Sebab, lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) masih jadi polemik alias batu sandungan.

‘);
}());

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Mataram, Ir. H. Amiruddin, M.Si., Senin, 12 Maret 2018 menjelaskan, ada lima substansi yang dievaluasi oleh Kementerian Agraria Tata Ruang dan Badan Pertanahan Nasional.

Lima substasi itu yakni, kebijakan strategi nasional, ruang terbuka hijau, peruntukan kawasan hutan, kawasan pertanian berkelanjutan, mitigasi bencana.

Menurutnya, kebijakan strategis nasional tidak ada masalah. Dua kebijakan telah diimplemtasikan di Kota Mataram yakni infrastruktur tenaga listrik dengan pembangunn PLTGU Lombok Peacker di Tanjung Karang. Infrastruktur jalan terdiri dari jalan arteri primer dan kolektor primer telah terpenuhi.

Berkaitan dengan Ruang Terbuka Hijau berdasarkan ketentuan undang – undang minimal pemenuhan 30 persen dengan rincian 20 persen RTH publik dan 10 persen RTH pribadi. “Kota Mataram sudah memenuhi target RTH publik mencapai 21,06 persen,” sebut Amir.

Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) direncanakan sampai tahun 2031 sekitar 509,54 hektar. Terkait hal ini kata Amir, belum ada kesepakatan. Masih ada perbedaan pandangan mengenai luasan LP2B. Sesuai Perda Nomor 1 Tahun 2013 ditetapkan oleh Pemprov NTB sekitar 1.833 hektar. Namun, sesuai Perda Nomor 12 Tahun 2011 tentang RTRW tergambarkan pola ruang luas LP2B seluas 1.153 hektar.

Hasil identifikasi lahan pertanian eksisting berdasarkan citra satelit Badan Informasi Geoparsial Cibinong menyebutkan luas lahan pertanian Kota Mataram 1.609 hektar. “Di sisi lain, ada perubahan pal dari luas Kota Mataram 61,30 km (6130 hektar), setelah dilakukan perapatan pal batas terjadi kekurangan lahan pertanian 120 hektar,” sebutnya.

Perbedaan pandangan mengenai LP2B ini, Kementerian ATR/BPN diminta Pemprov NTB dan Pemkot Mataram duduk bersama menyepakati luasan lahan tersebut. Setelah ada kesepakatan substansi , Amir memastikan revisi RTRW bisa tuntas bulan Maret ini. “Kalau sudah selesai substansinya selanjutnya Bagian Hukum yang punya pekerjaan,” tambahnya.

Plt Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana menambahkan, penyelesaian revisi RTRW banyak prosedur harus dilalui karena banyak sektor terlibat. Dia mengakui bahwa salah satu poin yang menjadi sandungan atau penghambat rampungnya RTRW berkaitan dengan LP2B.

Penyampaian dari Kementerian Pertanian sangat dipahami. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa persoalan di Kota Mataram adalah keterbatasan lahan dan arah kebijakan politik yang mengandalkan sektor jasa, perdagangan dan transportasi.

Kalau misalnya dipaksakan jadi efisiensi perkembangan Kota Mataram. Karena perda ini menyentuh sektor makro. “Terus ini tidak satu isu saja. Tapi pemkot butuh lahan produktif men-support kebijakan politik,” kata Mohan.

Menurut dia,perlu duduk bersama menyepakati kompensasi kekurangan lahan. Seperti diketahui, Kota Mataram bukan daerah penyuplai lahan pertanian, tapi butuh penyangga dari daerah lain di NTB. Apalagi rencana menuju Mataram Metro dimana didalamnya itu keseluruhan proses pembangunan jasa, perdagangan dan keterbatasan produktif. (cem)

Source link

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.