Mengenal SDIT Insan Mulia Kediri, Lombok Barat, Pencetak Hafiz dan Hafizah Cilik

Mengenal SDIT Insan Mulia Kediri, Lombok Barat, Pencetak Hafiz dan Hafizah Cilik

SDIT Insan Mulia di Kediri, Lombok Barat bukan sekolah biasa. Tidak hanya mengajarkan mata pelajaran umum. Sekolah ini juga mengajarkan siswanya menghafal Alquran.

 

M Zainuddin, Lombok Barat

 

Pagi itu, setelah bel sekolah berbunyi, semua siswa membentuk kelompok berisi sembilan hingga 10 orang. Seperti sudah terbiasa, mereka kemudian mencari lokasi favorit masing-masing. Sebagian memilih di dalam kelas, tak sedikit membentuk kelompok dan berkumpul di taman atau di teras ruang sekolah.

Para siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insan Mulia Kediri ini memang bebas menentukan di mana mereka belajar. Apalagi sekolah ini menerapkan moving class.

Sekolah ini memang dikenal sebagai salah satu pencetak hafiz dan hafizah. Mereka mempunyai program unggulan menghafal Alquran.

Tahun ini merupakan tahun kelima penerimaan siswa baru di SDIT Insan Mulia. Walaupun tergolong baru, namun berkat prestasi dibidang hafiz, nama SDIT Insan Mulia semakin melejit.

Jumlah hafalan setiap siswa SDIT Insan Mulia berbeda. Tergantung kelas dan kemampuan menghafal masing-masing siswa. Untuk kelas I minimal setengah juz, sementara jika sudah duduk dibangku kelas II, III, dan IV hafalannya sudah bisa menembus 3 sampai 4 juz.

Kepala Sekolah SDIT Insan Mulia Indra Suryani menerangkan, sekolahnya memang fokus menciptakan penghafal Alquran. Dalam proses menghafal ini, mereka menerapkan metode talqin. Sebuah metode menghafal, dengan cara terus mengulang apa yang dihafal.

Dengan metode inilah, anak-anak binaan di SDIT banyak yang lebih dahulu bisa menghafal meski belum bisa membaca Alquran.

Sehari, jumlah hafalan ayat disesuaikan dengan kemampuan anak. Tergantung juga dengan tingkat kesukaran surat yang dihafal itu. Untuk ayat pendek dan relatif mudah dilafazkan, siswa bisa menghafal lima hingga tujuh ayat per hari.

Sementara surat yang relatif sukar diucapkan dan memiliki ayat cukup panjang, maksimal lima ayat sehari. Contohnya, Surat At-Takwir dan Al-Mukhlisin.

”Kami sesuaikan sesuai bacaan surat,” terang wanita yang disapa ustzah Ani ini.

Setelah dibacakan oleh salah satu ustaz atau ustazah pembimbing, mereka akan diminta menirukan. Ayat yang hendak dihafal itu akan terus diulang-ulang bahkan sampai 20 kali.

Lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) ini menjelaskan, dalam metode ini keberhasilannya sangat bergantung kualitas bacaan guru pembimbing. ”Itu makanya, di SDIT guru pendamping harus memiliki standar minimal bacaan Alquran,” katanya.

Baca Juga

Agar memudahkan, siswa dalam satu kelas dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok, dibimbing satu guru pendamping. Selanjutnya, ayat yang diminta untuk dihafal itu akan kembali dimurajaah (diulang hafalan) saat melakukan salat Duha berjamaah dan shalat wajib lima waktu.

Jangan bayangkan, membujuk anak-anak usia kecil menghafal mudah. Guru-guru pendamping di SDIT Insan Mulia harus ektra sabar. Indra Suryani mengaku di sekolah yang dipimpinnya tidak ada unsur paksaan dalam menghafal. Ketika jenuh, maka siswa dibirkan bermain. Namun di saat itu pula guru pendamping curi-curi kesempatan untuk terus membacakan ayat yang dihafal.

Kemampuan menghafal anak berbeda-beda. Wanita asal Karang Bagu Mataram ini mengibaratkan kemampuan menghafal sama halnya dengan ketika makan, di mana suapan anak berbeda.

”Tapi tetap tidak dibeda-bedakan dalam kelompoknya,” jelasnya.

Pihak sekolah juga tetap fokus dengan pelajaran formal. Untuk mengaturnya, pihak sekolah menerapkan selang-seling pelajaran. Jika jam pertama belajar Alquran, Maka jam kedua pelajaran umum.

Sementara untuk di rumah, agar hafalan anak tetap ingat, sekolah membekali masing-masing siswa buku prestasi tahfiz. Di buku prestasi tahfiz ini akan jelas capaian hafalan siswa.

“Misalnya untuk hari Senin berapa hafalan, terus Selasa menambah lagi,” paparnya.

Indra Suryani menjelaskan, jumlah hafalan siswa juga tergantung apakah siswa itu sudah bisa membaca Alquran atau tidak. Anak dibangku kelas I dan II, dan III sebagian besar belum bisa baca Alquran. Berbeda dengan siswa kelas IV rata-rata sudah bisa membaca.

”Kalau yang kelas empat lebih cepat, karena sudah bisa membaca sendiri hafalannya,” katanya.

Pihak sekolah tetap memberikan target bagi siswa menghafal Alquran. Satu tahun minimal setengah juz. Sedangkan bagi tamatan SDIT Insan Mulai, mereka minimal sudah hafal 3 juz.

Jumlah siswa di SDIT Insan Mulia sekarang berjumlah 247 orang. Plus siswa baru 93 orang. SDIT Insan Mulia juga baru membuka rombel baru sampai kelas V.

Pembina SDIT Insan Mulia Hj Nurul Adha mengatakan, sejak berdiri empat tahun silam, SDIT Insan Mulia memang menerapkan full day school. Umumnya, anak kelas I pulang pukul 10.00 Wita, siswa kelas I SDIT Insan Mulia pulang pukul 14.00 Wita. Sedangkan kelas II 14.30 Wita. Dan kelas III dan IV pulang bada asar.

Kata anggota DPRD Lobar ini, sekolah tidak memaksa siswa menghafal. Tergantung mood anak-anak. Karena mereka mengedepankan mendidik anak dengan hati. Karena sistem pembelajran yang dinilai baik, banyak anak pejabat penting di Lobar sekolah di sana. (*/r3)

 

Komentar

Komentar

Source link

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.