Ternyata, Awan Misterius Itu Berbahaya!

Ternyata, Awan Misterius Itu Berbahaya!

MATARAM-Sebuah peristiwa alam langka terjadi Rabu (4/4) lalu. Sekitar pukul 2 siang, gumpalan awan berbentuk tak lazim menghiasi langit di Kota Mataram.

Awan itu menyerupai setengah lingkaran, nyaris sempurna. Dengan cahaya perak yang sangat terang, menyilaukan. Warga cukup terheran-heran dengan keberadaan awan tersebut. Rata-rata mereka baru pertama kali melihat awan ini.

Banyak warga yang memvideokan awan ini dan membagikannya di sosial media. Salah satnya rekaman video berdurasi 2:27 menit yang diupload oleh akun Ahmad Saputra melalui facebook.

Beberapa warga di video ini terdengar berkomentar. Mereka menyebut fenomena ini terjadi di Langit Mataram. Ada juga warga yang penasaran. Lalu bertanya pada rekan-rekannya.

“Apa jak ini ya?” tanya seorang yang sepertinya wanita.

Tapi pertanyaan wanita itu tak ada yang bisa menjawab. Sementara kamera ponsel masih terus mengamati pergeseran perubahan bentuk awan dilangit yang makin ‘mengerikan’.

Pria dalam video ini mengatakan jika rekaman itu diambil dari wilayah Rembiga, Kota Mataram. Video ini dengan cepat viral. Diikuti oleh video-video pendek yang dikirim oleh warga lain. Seperti video dan gambar yang dikrim akun Agus Adnan. Video ini mendapat like sampai 687 kali. Dan telah dibagikan sebanyak 10 ribu kali, dengan 374 komenter.

Lombok Post juga sempat melihat rekaman yang dikirimkan akun facebook Artis Gendeng. Rekaman itu sepertinya diambil disebuah lokasi sekolah. Tidak jelas di sekolah mana di Mataram. Sebab kamera terus menghadap langit di mana peristiwa langka itu terjadi.

Devi Ardiansyah, Kepala Seksi Observasi dan Informasi BIL menjelaskan fenomena awal tersebut biasa disebut kilat mahkota atau crown flash. Tak hanya di Rembiga, fenomena ini juga terlihat di banyak tempat lain di Lombok pada Rabu (4/4) lalu.

“Disebut mahkota karena fenomena ini biasanya terjadi di atas awan,” terang Devi.

Selain itu bisa juga ditemui di puncak bagian atas awan dari jenis awan hujan, awan badai, atau awan cumulonimbus. Warna keperakan yang menyilakuan, itu datang dari krital es yang dikandung awan yang membiaskan cahaya matahari.

“Cahaya dipantulkan atau dibiaskan melalui kristal es kecil di atas puncak awan cumulonimbus,” terangnya.

Kristal es ini berinteraksi dengan efek elektro-magnetik yang kuat di sekitar awan. Sehingga efeknya dapat muncul sebagai pilar cahaya. “(Semacam) streamer tinggi,” ulasnya.

Peristiwa ini terjadi karena ada dua syarat. Pertama harus ada kristal es di awan tersebut. Kemudian matahari berada pada posisi yang tepat sehingga cahayanya dapat terbias atau terpantulkan oleh kristal es.

Pada kasus crown flash kemarin, Rembiga adalah salah satu wilayah yang ‘beruntung’. Kristal es di atas awan cumolunimbus berada pada posisi yang tepat dengan matahari sehingga warga di sana bisa melihat fenomena ini.

“Syarat kedua kristal es yang terlihat seperti cahaya yang tinggi dan menjulang tersebut harus selaras dengan efek elektro-magnetik,” ulasnya.

Efek ini harus kuat dan berada di sekitar awan. Dengan terpenuhinya semua syarat itu maka efek cahaya seperti jilatan yang tinggi menyerupai pilar cahaya dapat terlihat. Bahkan seperti bergerak-gerak.

“Tapi jika salah satu syarat atau kedua syarat tidak terpenuhi maka perstiwa crown flash tidak bisa terlihat,” tandasnya.

Jadi di satu sisi masyarakat kota beruntung bisa melihat fenomena alam yang sangat langka itu. Crown flash tidak hanya pernah terjadi di Mataram. Tapi beberapa negara lain seperti Indiana, Amerika Serikat. Lalu ada di kota Kazan, Rusia.

Apakah awan ini berbahaya? Jawabannya Iya. Berbahaya. Tapi bahayanya untuk aktivitas penerbangan. Jika menilik kasus tahun 2014 salah satu maskapai penerbangan yakni Air Asia QZ8501 pernah mengalami perisiwa nahas. Kabarnya gumpalan es di dalam awan cumolunimbus masuk ke dalam bulet mesin dan wings.

“Dunia penerbangan sudah memahami ini dan selalu menghindari awan cumolunimbus,” terang Kepala Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Lombok, BMKG NTB Oral Sem Wilar.

Awan ini dinilai kurang bagus dan tidak bersahabat bagi dunia penerbangan. Jika pesawat sampai masuk ke dalam awan itu, medan magnet dapat menyebabkan turbulensi dan goncangan yang hebat.

“Karena itu sebisa mungkin pesawat akan menghindari sekalipun posisinya akan landing,” ulasnya.

Oral melanjutkan sebenarnya ini hanya perisitiwa biasa saja. Hanya karena jarang terjadi dan butuh syarat tak mudah maka terlihat sangat unik. Ini menurutnya pembiasan cahaya biasa dari sinar matahari. Awan cumolunimbus juga bukan awan yang langka terjadi dan jarang ditemui oleh para penerbang.

“Karena awan ini yang menyebabkan terjadi hujan,” jelasnya.

Biasanya fenomena crown flash tak ubahnya juga dengan hujan es yang pernah terjadi di Bandung beberapa waktu lalu. Semua karena syarat-syarat alam terpenuhi sehingga dua peristiwa yang jarang terjadi di Indonesia ini akhirnya terjadi.

“Saya kurang sepakat kalau itu dikaitkan dengan hal-hal mistis,” tegasnya.

Perlu masyarakat ketahui bentuk awan ada tiga. Awan rendah, sedang, dan tinggi. Di awan rendah terbagi lagi menjadi beberapa jenis lagi. Ada awan cumus, awan stratus, awan cumulunimbus dan masih banyak lagi yang lain. Begitu halnya juga dengan di awan sedang dan tinggi juga terbagi dalam beberapa jenis.

“Jika ditotal-total jumlah bentuk awan itu ada 27, saya jadi ingat pelajaran kuliah dulu,” terangnya.

Jika orang rajin mengamati awan mereka bisa melihat ada banyak perubahan terjadi pada bentuk awan. Hanya saja tidak banyak yang tertarik mengamati hal-hal ini kecuali mereka yang menabdikan dirinya pada bidang ke-BMKG-an.

“Khususnya apakah awan ini ada kaitannya dengan tanda peristiwa alam yang akan terjadi di Lombok, saya tidak menemukan ada referensi ilmiah soal ini, jadi untuk sementara saya rasa tidak ada bahayanya,” tandasnya. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Source link

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.