Imam Safwan, Seniman Serba Bisa dari Lombok Utara

Imam Safwan, Seniman Serba Bisa dari Lombok Utara

Ditanya mengenai mana lebih baik naik pangkat atau karya bertambah banyak, Imam menjawab apapun itu, yang penting bermanfaat bagi masyarakat. Baginya, menjadi ASN sekaligus seniman dengan segala bidang tujuannya hanya satu. Berbagi dan mengabdi.

Fatih Kudus Jaelani, Tanjung

Imam tinggal di sebuah rumah “mewah” alias mepet sawah. Tapi meski bukan mewah dalam arti sesungguhnya, tapi pekarangan rumah seniman serba bisa kebanggaan Lombok Utara ini memang indah.

Puluhan tanaman bonsai tumbuh subur di halaman yang hijau. Namanya seniman, apapun jadi indah dibuatnya. Jangankan makhluk hidup macam tumbuhan kerdil itu, kertas yang merupakan benda mati saja digambarnya jadi sketsa. Indah juga akhirnya.

“Dari jiwa yang seni, semua menjadi satu kesatuan. Saya selalu terpanggil untuk melakukan apapun yang berkaitan dengan dunia kreatif,” kata Imam.

Kata kreatif memang selalu menarik. Baik saat didengarkan, atau pun setelah melihat hasil dari laku yang lahir dari kata itu. Bagi Imam,  kreativitas lahir dari sebuah gagasan. Gagasan yang penuh dengan niatan berbuat banyak bagi sesamalah yang menjadi tumpuan Imam dalam berkarya.

Dulu sebelum sibuk di balik meja kantor, ia mengatakan gagasan-gagasan kreatifnya muncul dari setiap perjalanan yang ia lakukan. Baik di saat mengikuti kegiatan kesenian di dalam atau pun di luar daerah. Juga menjadi pembicara, juri, dan berbagai perjalanan kreatif yang membuatnya bisa bertemu dengan wajah-wajah baru.

Begitu juga dengan hobinya memancing di laut. Ia mengatakan, karena Tanjung terkenal dengan ikannya, ia pun banyak menulis puisi, cerpen, naskah drama, dan lirik lagi mengenai laut.

“Baik laut dengan nelayan. Laut dengan ibu-ibu pedagang ikan, dan laut dengan cinta dan kenangan,” kata Imam dengan nada khas sang pujangga.

Ide-ide dan gagasan dari perjalanan yang jauh dari meja kantor itu membuatnya menciptakan begitu banyak karya. Namun begitu beranjak ke hadapan meja kantor, apalagi dengan posisi saat ini sebagai seorang Kasubag Protokoler Setda Lombok Utara tentu hal itu berubah.

Berubah tidak berarti punah. Bagi Imam, justru saat ini dengan kesibukan sebagai ASN dengan tugas yang mengharuskannya keliling menemani Bupati Lombok Utara ke sana ke mari, ia merasa lebih banyak lagi mendapatkan inspirasi.

“Justru di sana saya mendapatkan banyak gagasan baru. Melihat realita kehidupan masyarakat dan isu-isu dalam kehidupan sosial yang sebelumnya tidak sejauh ini saya ketahui,” jelasnya.

Artinya, ia menandaskan bahwa ide atau gagasan kreatif tidak mesti hadir di satu tempat semata. Dalam hal ini, ia menyinggung para kreator lainnya yang menganggap aktivitas kantoran membunuh kreativitasnya.

“Di sini saya ingin tegaskan, bahwa ada hal-hal yang mesti kita pahami selaku insan kreatif. Artinya, dalam kesenian itu, ada yang harus saya libatkan. Dialah keluarga, istri dan anak-anak saya. Merekalah yang tidak memungkinkan saya duduk diam dan hanya menunggu inspirasi dalam kamar,” kata Imam.

Bagaimana pun Imam mesti bergerak mencari ruang-ruang baru dalam kehidupan. Kalau soal ide, jangan disakralkan hanya bisa hadir di satu ruang tertentu. Imam menyanggah mentah-mentah pendapat tersebut.

“Di mana pun bisa. Di balik meja kantor, di jalan, dan bahkan di dalam kamar mandi,” kata Imam.

Tahun 2016 lalu, Imam membuat sebuah film yang sempat meledak di Lombok Utara. Judulnya Mendung di Ujung Kampung. Dalam film itu, tokoh Amaq Dahrun begitu banyak dikenal warga. Tapi tak satu pun yang mengenal sutradaranya.

“Bagi saya yang terpenting adalah karya yang saya ciptakan bisa tambah bermanfaat lagi bagi masyarakat. Khususnya di tanah kelahiran saya, Lombok Utara ini. Kalau dikenal banyak orang, itu proses. Bukan tujuan,” tandasnya. (*/r7)

 

 

 

 

Komentar

Komentar

Source link

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.