KELUARGA EMAS

KELUARGA EMAS

Mereka terlahir dari keluarga yang tak berada. Dan buah kerja keras, kini mereka menjadi orang dengan karir yang gilang gemilang. Inilah adalah bukti nyata, bahwa orang-orang yang luar biasa, ternyata bisa terlahir dari keluarga yang biasa-biasa pula.

—————————————————

MEREKA, delapan bersaudara. Lahir dari rahim yang sama. Rahim Hj Amenah alias Inaq Rehan. Juga ayah yang sama, yakni HL Muslim. Keluarga ini bermukim di Praya, Lombok Tengah.

Delapan bersaudara ini adalah H Lalu Syafii, H Lalu Masri, HL Husni, HL Azhar, HL Ahmad Zaini, HL Ahmad Zainuri, Baiq Halimah dan Baiq Yustiana.

Siapa tak kenal mereka? HL Syafii, kini adalah Kepala Badan Kesbangpoldagri NTB. Dia lama malang melintang sebagai pejabat di Kota Mataram. Sebelum menjadi pejabat eselon II di lingkup Pemprov NTB.

H Lalu Masri, kini merupakan Pengawas Pendidikan di Lombok Tengah. Lalu HL Husni, adalah Guru Besar di Fakultas Hukum Universitas Mataram yang kini menjabat sebagai rektor perguruan tinggi negeri terbesar di NTB.

Sementara HL Azhar saat ini menjabat sebagai Kepala Puskesmas Aikmual, di Lombok Tengah. Lalu HL Ahmad Zaini merupakan Direktur Utama PDAM Giri Menang Mataram. Sedangkan HL Ahmad Zaenuri saat ini merupakan Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Mataram. Dia juga dikenal sebagai tokoh agama, pendakwah dan pimpinan yayasan al-Muslimun di Praya.

Baca Juga :

Dua perempuan yakni Baiq Halimah, saat ini adalah pegawai di Setda Lombok Barat. Dan yang paling bungsu, Baiq Yustiana, adalah Kepala SD Al-Muslimun, Bunut Baok, Praya.

Mereka dibesarkan dari keluarga biasa-biasa saja. Sang ibu, bahkan tidak bisa baca tulis. Sementara sang ayah hanya lulusan sekolah rakyat atau SR.

“Biarkan saya yang tidak bisa apa-apa, tapi anak saya harus bisa,” kata TGH Ahmad Zaenuri mengenang apa yang kerap disampaikan sang ibunda. Dan justru karena tak bisa membaca tulis itulah, sang ibu bertekad menjadikan anak-anaknya tidak mengkuti jejaknya.

Maka, sudah dipatok mati, seluruh anak-anaknya harus menempuh pendidikan. Sekolah setinggi-tingginya. Tujuannya satu. Agar kelak menjadi orang berguna.

Baik Hj Amenah dan HL Muslim tak pernah mencita-citakan anak-anaknya menjadi kepala dinas, menjadi rektor, atau menjadi direktur. Dia hanya ingin delapan anaknya, menjadi orang yang berguna. Itu saja. Dan pendidikan diyakini menjadi satu-satunya jalan.

Anda semua pasti mafhum. Menyekolahkan delapan anak hingga perguruan tinggi, tentulah bukan perkara mudah. Apalagi, kalau ekonomi keluarga juga bisa dikatakan pas-pasan. Namun, niat tulus dan suci orang tua, telah membuka jalan pemberian Sang Maha Kuasa.

Dan di tengah keterbatasan itulah, sang ibu dan ayah selalu tiada henti memotivasi anak-anak mereka. Sang ayah, HL Muslim adalah guru ngaji. Lalu sehari-hari, dia berjualan kulit jagung. HL Muslim adalah sosok yang taat ibadah, tekun bekerja, dan mendidik anak-anaknya dengan disiplin.

Apa resep keluarga ini? Disiplin menjadi salah satunya. Pada sosok sang ayahlah, Zainuri kecil dan kakak-kakaknya belajar disiplin dan punya semangat pantang menyerah. Sejak kecil, anak-anak sudah diwajibkan salat berjamaah setiap waktu. Bagi yang tidak ikut Salat Subuh berjamaah, mereka akan dihukum.

”Pak rektor (Lalu Husni) dulu pernah direndam karena tidak berjamaah,” tutur Zainuri, tertawa mengenang hal tersebut.

Dan semenjak kecil pula, mereka dididik menjadi pribadi yang mandiri. Semuanya disuruh bekerja di sawah membantu orang tua. Keluarga ini juga memelihara ternak. Dan Zainuri bersama saudara-saudaranya, terutama yang laki-laki, diharuskan pergi menyabit rumput untuk makanan ternak mereka.

Tentu saja, saat mereka sekolah tinggi, ekonomi keluarga kembang kempis. Tapi, kedua orang tua mereka kata Zainuri tak pernah meminta mereka berhenti kuliah. Tak juga mengeluh. Meski hanya sekali.

”Orang tua kami tidak akan mau membiarkan kami bekerja dan berhenti menuntut ilmu. Yang penting sekolah, kuliah, kuliah,” katanya.

Zaman itu, menyekolahkan anak juga kerap jadi omongan tak enak dari tetangga. Zainuri masih ingat bagaimana keinginan kakaknya L Syafi’i yang hendak kuliah di Malang. Orang sekampung mencibir dan menentang. Tapi tekad dan kegigihan sang kakak juga menjadi motivasi bagi adik-adiknya yang lain.

Dalam mendidik anaknya, sang ayah juga menerapkan sistem reward dan punishment, atau hukuman dan penghargaan. Misalnya, meski ekonomi keluarga sudah membaik, mereka tak akan dibelikan sepeda motor saat masih kuliah. Tapi begitu lulus, mereka akan diberikan sepeda motor.

Pun begitu bila melakukan kesalahan, hukuman tidak tanggung-tanggung akan diberikan. ”Tapi hukuman yang mendidik,” kata Zaenuri.

Keluarga Pengacara

Keluarga emas lainnya adalah keluarga pasangan H Sahbudin dan Hj Masturah. Keluarga ini bermukim di di Lenek, Aikmel, Lombok Timur.

H Sahabudin adalah guru di Sekolah Dasar. Dari rahim istrinya, Hj Masturiah, dia dikaruniai 11 orang anak. Namun, empat di antaranya telah dulu dipanggil Yang Maha Kuasa.

Dan tujuh orang anaknya, benar-benar dia didik dengan baik. Mereka adalah Busrah, Dani Elpah, Syafrudin, Fathurrauzi, Karmal Maksudi, Azrul Azwar, Asmuni, dan Heni Sulastri. Perbedaan umur mereka rata-rata tiga tahun.

Sahbudin yang kini masih mengajar di SDN 1 Lenek, Aik Mel, Lombok Timur, membesarkan anaknya di rumah dinas guru yang diberikan pemerintah. Hanya ada dua kamar tidur, dapur, dan kamar mandi.

Gaji menjadi seorang guru tak besar. Dia ingat, kala itu gajinya hanya Rp 65 ribu per bulan. Syukurnya, negara sudah menjamin beras untuk istri dan anak-anaknya.

Anak keenam Sahbudin, Azrul Azwar kepada Lombok Post menuturkan, karena tinggal di rumah dinas yang kecil, mereka tak punya kamar tidur. Kalau ngantuk, mereka akan tidur di teras.

”Kita tidurnya di teras. Berjejer seperti orang berbaris,” kata Azrul.

Tapi dari keterbatasan itulah, lahir anak-anak yang hebat. Keluarga ini kini adalah keluarga pengacara atau advokat. Enam anak Sahbudin adalah ahli hukum dan pengacara tersohor di NTB.

Hanya anak sulung, Busrah yang tidak menjadi pengacara. Dia mengikuti jejak sang ayah dengan menjadi guru. Namun, berkat dukungan biaya dari sangk kakak sulung itu pula, membuka jalan bagi enam saudara lainnya menempuh pendidikan di Fakultas Hukum dan kini menjadi pengacara.

Dani Elpah kata Azrul adalah pengacara pertama dari keluarga ini. Dia dikenal sebagai pengacara yang moncer di NTB. Saat ini, Dani tengah menempuh pendidikan doktoral di Surabaya dan berkarir sebagai hakim di Kota Pahlawan itu, selain juga sebagai tenaga pengajar di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Surabaya.

Sementara Syafrudin, juga kata Azrul adalah pengacara. Begitu pun dengan anak keempat Fathurrauzi, juga pengacara. Namun, saat ini menjadi Hakim Ad Hoc di Pengadilan Tipikor Mataram.

Kakak kelimanya Karmal Maksudi,  juga advokat. Termasuk Azrul sendiri. Adalah pengacara. Meski kini dia adalah Direktur di PT Suara Nusa Niaga Nusantara, kartu advokatnya masih hidup.

“Kalau saya meski menjadi direktur, kartu advokat saya masih hidup,” ucapnya.

Adiknya, Asmuni malah lebih moncer lagi. Kini Asmuni sudah menyandang gelar doktor dan menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Surabaya.

”Sekarang, Asmuni sudah memiliki beberapa kantor pengacara di beberapa daerah,” bebernya.

Sementara anak terakhir adalah Heni Sulastri yang seorang pengacara pula. Sekarang sudah membuka kantor pengacara sendiri.

Seperti keluarga HL Muslim, kunci sukses keluarga ini adalah disiplin yang tinggi dari sang ayah. Juga kerja keras. Azrul mengaku, mereka nyaris tak pernah merasakan hidup yang dimanja-manja. Saat ekonomi keluarga terus membaik seiring kesuksesan kakak-kakaknya yang menjadi pengacara ternama, mereka tak pernah dimanja.

Malah, mereka dibuatkan jadwal untuk memasak tiap pulang sekolah. ”Jadi kami bergiliran memasak setiap hari,” terangnya. Dan kewajiban ini tak ada beda. Saat belum menikah dan membina keluarga sendiri, kakak mereka yang menjadi pengacara pun wajib menjalani pembagian tugas memasak ini.

Sosok seorang ayah menjadi panutannya. Keterbatasan yang dimiliki orang tua menjadi pemecut semangat untuk menjalani hidup. Setiap malam menjelang tidur, ayahnya selalu memberikan nasehat. Itu dijadikan sebagai pegangan hidup bagi adik dan kakaknya.

Dalam kondisi hening dan dihiasi lampu buatan di dinding membuat Azrul tak bisa melupakan kisah itu. Dalam setiap nasehat yang diberikan ayahnya menjadi pagar dalam dirinya.

“Nasehat yang paling saya ingat itu adalah Bapak tidak pernah mewariskan harta jika meninggal. Dia hanya akan mewariskan ilmu pengetahuan,” kenangnya.

Sehingga, dia dan kakak adiknya dituntut untuk sekolah. Tiap pulang sekolah, mereka dituntut untuk belajar. Saat teman-temannya bermain, Azrul justru diminta berkutat dengan pelajaran.

Sukses Keluarga Poligami

Keluarga emas lainnya adalah keluarga Abdus Syukur alias Amaq Ma’shum dan Hj Romlah. Dari keluarga inilah lahir Prof H Mansur Ma’shum yang dua periode menjabat sebagai Rektor Universitas Mataram.

Mansur dibesarkan di Desa Rensing, Lombok Timur. Setelah menjadi Rektor Unram, dia kini adalah assesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Kemenristek Dikti.

Prof Mansur terlahir dari keluarga poligami. Anda jangan tercengang. Dia memiliki 27 saudara. Yang terlahir dari sembilan ibu. Sementara dirinya, yang satu ayah dan satu ibu adalah tujuh bersaudara.

“Kami bersaudara 27 orang sangat akur,” kata Prof Mansur pada Lombok Post. Sembilan ibu-ibu mereka pun begitu. Seluruhnya akur semasa hidup mereka.

Prof Mansur dan enam saudaranya yang lahir dari rahim yang sama, kini bisa dibilang adalah anak-anak yang sukses. Adiknya, Makbul Ma’shum kini adalah Kepala Inspektorat Kota Mataram. Sementara Jamiah, kini adalah salah satu pengusaha sukses. Misbah, adalah pegawai di Pemkot Mataram. Dan Maliki, adalah guru SMK. Satu lagi yang paling bungsu, Arfiah adalah ibu rumah tangga.

“Kalau di atas saya  namanya Hikmah sudah meinggal,” ujar pria kelahiran 1951 ini.

Menikmati posisi seperti sekarang ini, kata dilaluinya penuh pengorbanan. Dia bersolah harus meninggalkan rumah. Bertahun-tahun. Hal itu dilakukan Mansur semenjak SMP. Dia harus meninggalkan rumah untuk menempuh pendidikan SMP di Selong. Lalu setelah itu harus sekolah SMA di SMA 1 Kota Mataram. Pun saat menempuh perguruan tinggi. Adik-adiknya pun begitu. Mereka meninggalkan kenyamanan di rumah demi menempuh pendidikan.

Sang ayah sendiri, Abdus Syukur tadinya adalah kepala dusun. Saat pembentukan Desa Rensing, dia kemudian terpilih sebagai kepala desa pertama di daerah utara Keruak, tersebut.

Semenjak dulu, pada anak-anaknya, sang ayah dan ibu tak pernah menuntut muluk-muluk. Mereka tak pernah bercita-cita menjadikan anak-anak mereka orang besar. Orang tuanya hanya ingin anak-anaknya bisa mengaji. Itu saja.

Dan yang paling penting dari semua itu adalah doa dari orang tua. Sang ayah kata dia, selalu berdoa manakala anak-anaknya akan berangkat sekolah.

Dokter Spesialis Anak Petani

Di tempat lain, berkat doa tiada henti dari orang tua pula, Lalu Ahmadi Jaya bisa menjadi dokter spesialis penyakit dalam di NTB. Ahmadi yang kini adalah dokter Pemprov NTB untuk Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi, terlahir dari keluarga petani.

Lelaki kelahiran 1968 di Suradadi, Lombok Timur tersebut menempuh pendidikan berkat langganan meraih beasiswa sejak duduk di bangku SD. Selain rajin dan tekun, Lalu Ahmadi percaya bahwa gelar dokter spesialis yang diraihnya saat ini merupakan berkah dari doa kedua orang tuanya.

“Kedua orang tua mendoakan saya seperti menyuapi makanan,” kata Ahmadi kepada Lombok Post.

Doa itu tak pernah berhenti. Pada mulanya, ibunya Hj Baiq Husna mendoakan agar dia jangan sampai mengenyam pendidikan di luar daerah. “Waktu itu ibu saya berdoa karena takut ditinggal jauh sama anak bungsunya,” terang Ahmadi.

Namun saat ayahnya  almarhum HL Wahsul waktu itu mengidap tumor, dr Ahmadi pun akhirnya diizinkan oleh ibunya untuk sekolah ke luar daerah. Sejak saat itu, ia pun pergi ke Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali. Di mana beberapa tahun kemudian ia melanjutkan pendidikan kedokterannya di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

“Saya berniat menjadi dokter ketika melihat ayah saya sakit,” kata dr Ahmadi.

Tekad tersebut ia bulatkan. Orang tua tak memberikan biaya penuh. Melainkan doa yang tiada hentinya diucapkan. dr Ahmadi memperagakan bagaimana kedua orang tuanya tak pernah berhenti berdoa di sepanjang jalan ketika ia berangkat menuntut ilmu keluar daerah.

Sampai sekarang. dr Ahmadi mengatakan kalau doa yang tiada putusnya  tersebut membuat selalu rindu ingin pulang. Dari tiada menjadi ada. Dari sebuah doa tulus kedua orang tua, dr Ahmadi mendapatkan semua hasil yang diidamkannya.

Keinginan membantu ayahnya keluar dari rasa sakit yang di deritanya pun terkabul. Dengan menjadi dokter, ia bisa mencarikan dokter yang tepat untuk melakukan operasi. Tak hanya itu, ia juga bisa menemani ayah di kamar operasi. “Waktu itu dokternya minta saya menjadi asisten,” kenangnya.

Begitu juga sepuluh tahun kemudian, ketika penyakit sang ayah kambuh lagi. Pada tahun 2006, dr Ahmadi yang sedang menempuh pendidikan spesialis penyakit dalam di Surabaya, menemukan dokter bedah yang tepat untuk sang ayah.

“Kasih sayang ke orang tua juga menjadi kunci. Sebab doa dari mereka yang terus mengalir juga yang menumbuhkan rasa itu pada diri saya,” kata dr Ahmadi.

Akhir tahun 2017 lalu, ayahnya yang menjadi motivasi awalnya menjadi seorang dokter dipanggil Yang Maga Kuasa. Kini, dr Ahmadi masih memiliki ibu yang terus menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit. Meminta yang terbaik bagi anak-anaknya.

Keluarga Pengusaha

Dari kalangan pengusaha, ada keluarga H Moerad. Dia adalah pengusaha dan founder rumah makan ayam taliwang H Moerad. Dari keluarga inilah kini lahir pengusaha-pengusaha rumah makan dengan branding yang sama.

Putri tertua almarhum H Moerad yang kini masih menekuni bisnis sang ayah, Hj Siti Sofia Moerad menuturkan, sebelum memutuskan berjualan ayam taliwang, H Moerad merupakan saudagar sapi yang terkenal. Bisnisnya melebar hingga luar daerah. Bahkan sapinya dikirim ke luar negeri.

Sayangnya hal itu tidak bertahan lama. Bisnis ayahnya bangkrut setelah kapal yang memuat ribuan sapi tenggelam saat dibawa ke luar daerah. Sekitar tiga kali kapal pengangkut sapinya tenggelam. Dan H Moerad hanya memiliki aset berupa kantor di Cakranegara.

Disaat itu sang istri Hj Salmah mulai berpikir. Sang ibu pernah berjualan nasi di pasar pada zaman penjajahan Jepang. “Ibu saya ini orang Jawa,” aku Siti.

Di saat sapi tak lagi menjadi harapan, ekonomi keluarga semakin memburuk.  H Moerad tak lagi keluar berniaga sapi. Disaat itu ibunya Siti meminta untuk berjualan. Namun hal tersebut berkali-kali tidak diijinkan oleh bapaknya itu. Sebab sesuai tradisi masyarakat dulu dimana istri tinggal di rumah dan suami mencari nafkah.

Tahun 1965, akhirnya kantor urusan dagang sapi pun kembali dibuka. Namun bukan sebagai tempat jual beli sapi, melainkan sebagai rumah makan. Ada banyak yang dijual, mulai dari mi kuah, pecel, nasi campur dan lainnya. Saat itu belum muncul ide ayam taliwang.

Namun, seiring berjalan waktu, penjualan ayam terlihat lebih laris dibandingkan menu lainnya. Ayam menjadi menu laris di rumah makan keluarganya saat itu. Dan sinilah naluri bisnis Haji Moerad tajam meliha tpeluang. Agar restorannya ramai pengunjung, maka dia berpikir bagaimana membuat menu spesial yang lain dari restauran kebanyakan. Ini menjadi cikal bakal lahirnya Ayam Taliwang H Moerad seperti yang dikenal sekarang.

Mendapatkan ayam seperti sekarang ini, H Moerad melakukan banyak percobaan. Sang istri yang membuat menunya dan H Moerad sebagai pencicip menu. Begitu juga proses pembakaran, awalnya menggunakan serabut kelapa. Namun hasilnya kurang bagus sehingga menggantinya dengan arang. Bumbunya pun demikian, adanya banyak percobaan yang dilakukan terutama agar tidak mudah cepat basi.

Siti mengungkapkan bapaknya memiliki 24 anak. Dari Hj Salmah sebanyak 8 orang yang termasuk Siti di dalamnya. Ia dan 6 saudaranya ( 1 meninggal dunia) semua menggeluti usaha ayam taliwang dan terbilang sukses hingga saat ini.  Bahkan hingga memenangkan ajang kuliner tingkat nasional belum lama ini. Ini disebabkan ayam taliwang yang mereka jual memiliki citarasa yang sama seperti yang diciptakan kedua orang tua mereka.

Siti mengungkapkan tak ada didikan khusus yang diberikan kedua orang tua mereka. Mereka belajar secara otodidak dengan memperhatikan kegiatan H Moerad dan Hj Salmah di dapur. Mereka  juga kadang ikut terjun langsung membuat menu bersama kedua orang tuanya.

Namun ada beberapa hal yang selalu ditanamkan sang ayah pada dirinya dan saudara-saudaranya. Yakni ulet, jujur, dan bekerja keras. Mereka diajarkan untuk selalu bekerja keras dan ulet untuk meraih kesuksesan. Bahkan ketika ada orang miskin yang masuk restoran untuk makan, H Moerad mengajarkan untuk tetap menerima. Tidak boleh ada patokan harga. Seberapapun uang yang orang miskin itu miliki harus dilayani.

“Jangan sampai tamu pulang dengan kosong,” kenangnya. Generasi usaha rumah makan keluarga ini bahkan sudah ke generasi kedua. Di mana, anak Siti bahkan sudah membuka warung makan dengan brand serupa.

Keluarga Sekda

Sementara dari kalangan birokrat, adalah keluarga H Abdurrahim. Dia adalah orang tua yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah di NTB, dan anaknya H Nanang Samodra juga mengikuti jalan ayahnya dengan memangku jabatan yang sama.

Abdurrahim dulunya sebelum menjadi birokrat adalah pejuang NTB kelahiran Rumbuk, Lombok Timur yang dianugerahi bintang gerilya oleh Presiden Soekarno. Disamping pejuang kemerdekaan, ia juga seorang pejuang pendidikan. Bersama teman-temannya ia mendirikan PGA di Mataram, dan salah seorang muridnya waktu itu adalah tohoh nasional (alm) AM. Fatwa.

Dedikasinya dalam bidang pendidikan yang sangat monumental adalah pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al Azhar NTB yang kini telah mencetak lebih dari 500 orang dokter.

Dia menjabat Sekda NTB pada 1964-1972. Juga pernah menjabat Ketua Harian Operasi Tekad Makmur, operasi yang mampu mengubah NTB dari provinsi yang selalu kekurangan pangan menjadi salah satu provinsi penyandang stok pangan nasional melalui program Gogo Rancah.

Melengkapi pengabdian, dalam bidang politik, pada era reformasi ia termasuk yang mempersiapkan pendirian PAN di NTB, untuk kemudian terpilih menjadi Ketua DPW PAN NTB dan menjadi salah satu Wakil Ketua DPRD NTB.

Nanang Samodra adalah putra sulung Abdurrahim. Seperti sang ayah, ia juga sukses menjadi sekda NTB. Karir tertinggi PNS di sebuah provinsi. Dia menjabat Sekda pada 2003-2008. Nanang menjadi Sekda, empat puluh tahun setelah ayahnya memangku jabatan tersebut. Nanang adalah Sekda NTB ke-10 menggantikan HL. Djafar Suryadi.

“Tidak ngerti juga, jalan karir menuntun seperti itu,” kata Nanang yang kini menjabat sebagai anggota DPR RI tersebut.

Tak cuma dirinya. Adik laki-laki Nanang, Ahmad Firdaus Sukmono juga memiliki karir cemerlang. Saat ini Ahmad Firdaus berkarier di Kementerian Perdagangan. Ia pernah memimpin International Trade Promotion Centre (ITPC) di Belgia dan Afrika Selatan. Setelah itu menjadi Atase Perdagangan di Belanda. Kini meskipun telah pensiun sebagai ASN, ia tetap dipercaya oleh pemerintah sebagai Wakil Ketua Komisi Anti Dumping, yang setiap saat bersidang di Jenewa.

Adik laki-laki bungsu Nanang, Rusdi Hidayat Nugroho, menyelesaikan pendidikan S-3 nya di Universitas Brawijaya Malang. Kini ia menjadi salah seorang dosen senior di Universitas Pembangunan Nusantara, setelah sebelumnya menjadi pimpinan beberapa instansi di Lombok Barat.

Saat ini Nanang bersama keempat adiknya, mengelola Yayasan Pesantren Luhur Al Azhar yang menaungi Universitas Al Azhar. “Kami  pimpin secara bergantian, meneruskan amanat dari ayah,” katanya.

Terkait bagaiamana bisa Nanang dan saudara-saudaranya bisa seperti saat ini. Kata dia, jelas andil kedua orang tuanya sangat berperan. Mewarisi darah pejuang, Nanang masih terus mengingat bagaimana ia dididik sang ayah. Lugas dan tegas namun penuh kasih sayang. Karena sang ayah yang memang ikut bergriliya, semangat pantang menyerah itulah yang sangat meresap dalam dirinya.

“Kita diajar sungguh-sungguh dalam mengejar sesuatu tujuan,” ujarnya.

Juga fokus dalam dunia pendidikan, tak heran anak-anaknya juga memiliki latar belakang pendidikan yang mentereng. Dipadukan bekal keahlian seorang birokrat, lahirlah keluarga-keluarga birokrat sejati.

“Sebagai seorang politisi, bapak juga pandai melakukan lobi-lobi,” ceritanya.

Sementara sang ibu digambarkannya sebagai sosok yang sabar dalam membimbing. Dialah pelengkap keluarga yang menenangkan, mengayomi, dan memberi kasih sayang. “Tanpa banyak saya gambarkan, semua pasti sepakat ibu itu adalah pelita dalam rumah tangga,” ucapnya.

Bagaimana bisa ayah dan anak menjadi sekda? Nanang hanya geleng-geleng. Namun perihal kelebihan ayahnya, sebenarnya sudah tampak sejak baru dilahirkan. (ili/yuk/jay/fer/tih/r8)

Komentar

Komentar

Source link

Recent search terms:

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.