Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Lalu Muhammad Zuhri mengejutkan dunia. Pemuda 18 tahun asal Lombok Utara itu membuktikan, latar belakang keluarga yang sederhana, ternyata bukan penghalang untuk menaklukkan dunia. Berikut kisahnya.

SUHARLI, Lombok Utara

===================

DUSUN Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Lombok Utara, mendadak jadi buah bibir. Menyusul keberhasilan Lalu Muhammad Zohri meraih gelar juara dunia lari 100 meter di bawah usia 20 tahun di Finlandia, nama dusun itu ikut dibincangkan.

Zohri memang lahir dan dibesarkan di Dusun Pangsor. Rumahnya pun masih di sana. Sebuah rumah yang sungguh sederhana.

Kemarin, Lombok Post ke sana. Rumah itu berdinding kayu. Saat ini hanya dijaga karib Zohri. Zuliadi namanya. Dia teman semasa kecil Zohri. Dan dia pula yang kini memegang kunci rumah. Itu dilakukan semenjak kedua orang tua Zohri meninggal dunia.

Zohri sebetulnya masih punya saudara. Namun, dua kakaknya bekerja di Gili Trawangan. Sebuah pulau parwisata yang dipisahkan laut dari daratan pulau Lombok. Sesekali, kakaknya pulang ke kampung halamannya itu.

”Kalau Zohri pulang, istirahatnya di sini,” kata Zuliadi.

Rumah sederhana itu memiliki panjang 7×4 meter. Dindingnya bedek. Banyak bolongnya. Beberapa bagian dinding bahkan harus ditutupi koran untuk menahan tiupan angin. Hanya ada dua ruangan dalam rumah tersebut. Ruangan tersebut dibatasi dengan sekat papan butut.

Jangan bayangkan ruang tamu tersebut macam ruang tamu di rumah-rumah masa kini. Di sana, yang tersisa beberapa perabotan dapur almarhum ibunya, Saeriah. Perabotan itu ditutup menggunakan kardus bekas.

Di kamar tidur, beberapa alat pertanian milik almarhum ayahnya, Lalu Ahmad, juga masih teronggok. Alat-alat itu tersimpan rapi di bawah dipan lapuk.

Tempat tidur Zohri tak ada kasur empuk. Dipan itu hanya beralaskan tikar lusuh dan selimut. Sementara di dekatnya ada lemari tak kalah bututnya. Alas dan sekat lemari pun sudah patah.

Kendati berasal dari keluarga tak berpunya, Zohri tak pernah mengeluh. Bahkan, dia merasa nyaman dengan tempat tidur yang sederhana.

“Dulu, kalau dia (Zohri, Red) malas sekolah selalu dicari gurunya. Kalau dicari pasti dia sedang tidur ditempat tidur ini,” bebernya.

Zohri hidup dengan keterbatasan. Kakak pertamanya, Baiq Fasilah rela bekerja keras untuk menyekolahkan Zohri. ”Saya dan adik nomor dua, bertekad untuk terus menyekolahkan Zohri,” kata Fazilah yang kemarin pulang menengok rumah peninggalan orang tuanya itu.

Dia menuturkan, semasa sekolah, Zohri angin-anginan. Dia sangat sulit bangun pagi. ”Tiap pagi, saya selalu capek membangunkannya. Kalau tidak ada uang saku, dia tidak ingin sekolah,” ujarnya.

Sehingga, beberapa kali dia harus dicari gurunya ke rumah. Namun, setiap gurunya ke rumah, pasti Zohri ditemukan dalam keadaan tidur.

“Di sinilah, dia tidur kalau dicari sama gurunya,” kata Fazilah sambil merapikan dipan tempat tidurnya.

Pada 2015, menjadi tahun yang sangat menyedihkan bagi anak bungsu dari empat bersaudara itu. Ibunda tercintanya, Saeriah meniggal dunia karena penyakit tipes.

Setelah ibunya meninggal, pria yang akrab disapa “Badok” di desanya itu mulai berubah. Tiap azan subuh dia bangun sendiri. ”Saya tidak lelah lagi membangunkannya. Sekolahnya lebih rajin juga,” katanya mengenang.

Sebelum ayahnya meninggal pada 2016, guru olahraganya di SMP 1 Pemenang, Rosida pernah datang ke rumahnya. Dia meminta izin kepada bapaknya untuk mendorong Zohri untuk ikut olahraga atletik. Dari hobi main bola, Zohri kemudian berlatih ke atletik.

Semenjak itu, setiap selesai salat Subuh, Zohri selalu menyempatkan diri untuk berlari ke bangsal. Larinya pun tanpa menggunakan sepatu. ”Setelah lari baru dia mandi dan berangkat ke sekolah,” ingat Fazilah.

Dari situ, Fazilah melihat semangat Zohri untuk menekuni olahraga atletik. Setiap hari, yang dikerjakannya hanya berlari. ”Sebelum dan sepulang sekolah dia berlari tanpa menggunakan sepatu,” ungkapnya.

Pada 2016, Zohri meminta izin untuk mengikuti kejuaraan atletik antar pelajar tingkat kabupaten/kota di Mataram. Sebelum mengikuti kejuaraan, dia meminta uang ke Fadilah untuk membeli sepatu.

Sayangnya, saat itu, kakaknya tidak memiliki cukup uang untuk membelikannya sepatu. ”Dia minta waktu itu Rp 400 ribu. Tapi, satu sen pun uang saya saat itu tidak ada,” ujarnya.

Syukurnya, guru olahraganya, Rosida yang memberikannya sepatu untuk mengikuti kejuaraan itu. ”Ibu Rosida memiliki jasa yang besar terhadap Zohri,” kata dia.

Dia mendengar kabar, kalau Zohri meraih juara satu di kejuaraan itu. Lalu, dia diminta untuk masuk ke Pemusatan dan Latihan Pelajar (PPLP) NTB.

Tapi, ayahnya sempat menolak. Karena, tidak ada yang menemaninya di rumah. ”Kalau menjadi atlet  PPLP itu kan harus diam di asrama. Nah, ayah saya tidak setuju,” ujarnya.

Lagi-lagi, guru olahraganya Rosida datang ke rumah. Dia meyakinkan ayahnya supaya Zohri diizinkan ke PPLP. ”Saya tidak tahu bahasanya ibu Rosida sehingga ayah saya melunak dan mengizinkan Zohri ke PPLP,” ceritanya.

Zohri pun masuk PPLP pada pertengahan 2016. Dia mendengar, kalau Zohri mendapatkan medali perak di kejuaraan nasional atletik antar PPLP. ”Saya dan ayah, bangga sekali mendengarnya,” ujarnya.

Pada akhir 2016, ayahnya yang terkena sakit sesak meninggal. Dia dan  Zohri merasa terpukul melihat ayahnya yang terbaring di dipan yang lusuh itu. ”Saya ingat di dipan ini ayahnya saya meninggal. Disini kedua orang tua saya menghabiskan waktunya bersama,” kata Fazilah dengan perasaan sedih sambil mengusapkan air mata.

Meskipun sederhana, namun rumah reot ini sangat bersejarah bagi Zohri. ”Dari sini Zohri dibesarkan dan kini bisa menjadi juara dunia. Itu sangat membanggakan,” Ingat Fadilah yang terus menangis.

”Saat ini, ayah dan ibu pasti tersenyum melihat anaknya yang sudah menjadi juara dunia,” kata dia dengan terbata-bata.

Semenjak kematian ayahnya, karir Zohri terus melesat di dunia atletik. Di tiap kejuaraan nasional atletik tingkat pelajar Zohri selalu menyumbangkan emas untuk NTB.

Kerja keras yang dilakukan Zohri membuahkan hasil. Dia menyumbangkan dua medali emas di Pekan Olahraga Pelajar Nasional  (Popnas) 2017 di Jawa Tengah.

Di popnas, Zohri mencatatkan waktu 10,29 detik. Dia mengalahkan pesaing terberatnya di nomor lari 100 meter Izrak asal Gorontalo Izrak Hajulu yang mencatatkan waktu 10,32 detik.

Catatan waktu yang direngkuh Zohri membuat tim talent scoating dari Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia kepincut membawanya ke Pemusatan Latihan Nasional.

Sejak saat itu, torehan medali emas tetap dia persembahkan untuk Indonesia di ajang internasional. Di kejuaraan Asian School Games, tes event Asian Games, dan puncaknya di kejuaraan dunia. (*/r8)

Komentar

Komentar

Source link

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.