Mengenal Trash Hero, Komunitas Pahlawan Sampah di Kota Mataram

Mengenal Trash Hero, Komunitas Pahlawan Sampah di Kota Mataram

Mereka bukan pahlawan super. Tapi bertekad kuat melawan monster sampah yang bertebaran di lingkungan. Motivasinya hanya satu, menggerakkan generasi muda untuk sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan.    

Fatih Kudus Jaelani, Mataram

***

Di Minggu yang cerah, puluhan pemuda berseragam kuning terlihat membawa sapu dan karung. Mereka berkeliling. Dari satu gang ke gang lainnya. Menyusuri jalan. Mencari monster yang bertebaran. Sampah plastik, daun-daun kering,  dan segala jenis sampah yang menggangu kebersihan lingkungan, mereka karungkan.

Para pemuda ini terlihat keren dengan kaos berwarna kuning bertuliskan I Am Trash Hero. Di bawah tulisan berbahasa Inggris itu tertulis kata-kata yang hurufnya lebih kecil, Saya pahlawan sampah.

Dengan kostum itu, para pemuda yang terdiri dari anak-anak SD,SMP, dan SMA tersebut dengan gagah membersihkan lingkungannya.

Pahlawan sampah ini berasal dari lingkungan Rembiga Barat, Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Mataram. Sekali seminggu, mereka dengan semangat mengumpulkan berkarung-karung sampah plastik yang bertebaran di jalan.

“Misi Trash Hero adalah menyelamatkan lingkungan Rembiga Barat dari monster sampah,” kata penggagas gerakan trash hero Mataram, H Khairut Tamami.

Tamami menjelaskan, Trash Hero merupakan gerakan membersihkan lingkungan. Komunitas pahlawan sampah ini bukan digagas olehnya. Melainkan oleh para pecinta lingkungan di Thailand. Dari sana Trash Hero kemudian berkembang ke berbagai negara lainnya. “Gerakan ini sudah mendunia,” kata Tamami.

Tamami pertama kali mengenalnya di Gili Terawangan. Selama dua tahun bergabung dengan Trash Hero internasional di Gili Terawangan, akhirnya ia berpikir untuk membangun Trash Hero di kota kelahirannya, Mataram.

Ia mengatakan, sampah merupakan persoalan dunia. Mataram yang mendapat piala Adipura bukan berarti sudah selesai dengan permasalahan sampah. “Sampah tak ada matinya,” terang Tamami.

Karena itu, ia berpikir bagaimana mengajak generasi muda untuk sadar dan mau membersihkan lingkungannya sendiri. Caranya adalah dengan mengatakan bahwa mereka adalah pahlawan sampah. Satu cara yang menarik dalam menghadapi generasi milenial yang berpikir praktis dan tak memiliki pandangan panjang ke masa depan.

Ia pun memperlihatkan bagaimana Trash Hero Mataram sudah mampu mengumpulkan ratusan pemuda lingkungan Rembiga Barat. “Kesadaran anak-anak ini yang kita butuhkan. Ketika dari kecil mereka sudah ikut membersihkan lingkungan, maka ke depannya hal itu akan tertanam kuat di hati dan tubuh,” terang Tamami.

Tamami memulai gerakan pahlawan sampah ini pada tahun 2016 lalu. Awalnya ia mengajak para pemuda yang memang sudah memiliki kegiatan membersihkan kuburan setiap minggunya. Lalu ia pun mengkomunikasikan hal tersebut untuk mengajak mereka bergabung dalam komunitas pahlawan sampah. Namanya pahlawan, haruslah ada seragam atau kostumnya. Di awal lahirnya, kaos berwarna kuning itu diberikan oleh Trash Hero pusat.

Bentuk kegiatan para pahlawan dari lingkungan Rembiga Barat ini sederhana. Mereka hanya berkumpul pada Minggu sore. Satu kali seminggu. Tamami mengatakan, bukannya tidak bisa kalau dilakukan setiap hari, tapi karena sasaran kegiatan ini adalah pemuda dan remaja, takutnya mereka jenuh.

“Dalam gerakan ini, tidak boleh ada yang merasa terpaksa. Lihat saja sendiri, mereka dengan senang membersihkan lingkungan mereka dari sampah. Itu yang kita inginkan. Bahagia dan tidak ada tekanan. Kita ingin generasi muda bekerja dengan cinta,” kata Tamami.

Saat ini, Trash Hero Mataram sudah masuk daftar Trash Hero dunia. Jadi semua kegiatan yang dilakukan di Mataram akan dishare di Trash Hero dunia. Karena itu, Tamami berharap gerakan ini tidak hanya ada di lingkungan Rembiga Barat saja. Ia membayangkan bagaimana jika semua kelurahan di Kota Mataram memiliki para pemuda yang menjadi relawan Trash Hero.

Mimpi tentang munculnya ribuan pemuda yang menamakan dirinya pahlawan sampah tertancap kuat di benak Tamami. “Selama dua tahun ini, betapa bahagianya saya melihat senyum bahagia generasi muda ketika membersihkan lingkungan dari sampah. Intinya di sana, melakukan kerja sosial dengan bahagia. Bukan terpaksa,” terang Tamami.

Itulah mengapa mereka butuh kostum. Bukan hanya untuk gagah-gagahan. Melainkan trik. Cara lain untuk mengajak generasi muda mencintai lingkungan sekitarnya. Tamami berharap agar pemerintah bisa melihat gerakannya dengan baik dan bijak.

Selama ini, Trash Hero masih kekurangan alat. Ratusan pemuda hanya bisa memakai satu motor roda tiga pengangkut sampah. Itu milik pemerintah kelurahan.

Tentu masih sangat kurang. Tamami menegaskan bahwa Trash Hero tidak membutuhkan uang. Melainkan peralatan. “Selama ini kita tidak pernah menerima bantuan berbentuk uang. Karena bukan itu yang kita butuhkan,” terang Tamami.

“Saya sendiri tidak bisa membantu dengan uang. Maka dengan gerakan inilah saya berjuang. Perjuangan menyadarkan generasi muda ini tidak akan pernah mati. Saya berhenti memperjuangkan gerakan ini hanya di saat saya sudah tiada,” tambahnya. (*)

Komentar

Komentar

Source link

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.