Petani Menjerit, Harga Jagung di Dompu Anjlok | SUARANTB.com

Petani Menjerit, Harga Jagung di Dompu Anjlok | SUARANTB.com

Petani Menjerit, Harga Jagung di Dompu AnjlokPetani Menjerit, Harga Jagung di Dompu Anjlok

HARGA TURUN – Bupati Dompu, H. Bambang M. Yasin, memperlihatkan hasil panen jagung dari petani di Dompu, dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu. Sayangnya, saat ini rantai produksi jagung hanya menguntungkan tengkulak. Petani menjerit karena harga jagung turun jelang panen. (Suara NTB/dok)

Dompu (Suara NTB) – Memasuki masa panen jagung pada musim tanam tahun ini geliat harga komoditi unggulan tersebut mulai terlihat. Kisaran harganya jauh di… Petani Menjerit, Harga Jagung di Dompu Anjlok

Dompu (Suara NTB) – Memasuki masa panen jagung pada musim tanam tahun ini geliat harga komoditi unggulan tersebut mulai terlihat. Kisaran harganya jauh di bawah acuan Harga Pokok Penjualan (HPP). Persoalan itu lantas menuai keluhan dari para petani.

‘);
}());

Salah seorang petani di Desa Oo, Kardianto kepada Suara NTB mengaku kesal mengetahui rendahnya harga pembelian jagung dari para tengkulak, yakni Rp2700 /Kg untuk jagung kering. Sedangkan jagung dengan kadar air 20-21 atau basah Rp1800 – Rp2.000 /Kg.

“Kalau tengkulak ambil ke petani sekarang itu Rp2.700 – Rp2.800/Kg itu jagung kering. Memang turun dibanding panen kita sebelumnya,” kata dia, Minggu, 11 Maret 2018.

Rendahnya harga pembelian para tengkulak diakui merugikan petani, sebab hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Pun para tengkulak, menurut dia, selain leluasa menentukan harga juga gampang menambah keuntungan dengan bermain dikadar air jagung.

Seperti halnya mengukur kadar air untuk kemudian menentukan harga, termasuk jarak tempuh lahan jadi pertimbangan mereka menurunkan harga pembelian.

“Satu koma dibelakangnya juga itu dipotong angka kiloannya saat penimbangan. Misalnya, berat jagung 19,66 yang harus diambil tengkulak hanya 1,66 itu, jadi 1 Kg untuk tengkulaknya belum potongan-potongan lain. Makanya, kaya para tengkulak ini sekarang,” ungkapnya.

Persaingan antar tengkulak pun, kata Kardianto, menjadi persoalan serius yang muaranya akan dirasakan petani. Untuk itu, harap dia, jika memungkinkan, perlu adanya penentuan harga pembelian tetap di tiap kecamatan. Dengan begitu tidak ada lagi tarik ulur harga yang sebetulnya akan merugikan petani.

“Jangan sampai setiap tengkulak ini beda bawa harga, karena bisa merugikan petani kalau demikian, terutama petani yang tidak paham soal harga dan kadar air itu,” ujarnya.

Petani lainnya, Kamrin juga mengeluhkan hal yang sama menjelang massa panen jagung tahun ini. Pasalnya harga jagung tahun sebelumnya Rp3.000 lebih/Kg sebagaimana HPP justru tiba-tiba turun di tengah tingginya biaya produksi. Untuk itu, perlu ada ketegasan pemerintah daerah dalam menjaga harga salah satu komditi unggulan ini.

“Kalau begini kan kita yang rugi, jagung kita sudah banyak yang roboh diterjang angin ditambah lagi harganya turun,” jelasnya.

Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Dompu, H. Iskandar yang berusaha dikonfirmasi soal Harga Pokok Penjualan (HPP) komoditi pertanian tersebut tak menjawab telefon, Minggu, 11 Maret 2018 pagi. (jun)

Source link

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.