Polisi Gagalkan Perang Mercon

Polisi Gagalkan Perang Mercon

MATARAM-Aksi perang mercon digagalkan kepolisian, kemarin (11/6). Dalam pembubaran yang dilakukan di dua tempat ini, polisi sempat menahan lima anak-anak yang berada di lokasi kejadian. Kelimanya diduga hendak ikut serta perang mercon.

Pembubaran pertama dilakukan Bhabinkamtibmas di wilayah Narmada. Aiptu Gede Arya, Bhabinkamtibmas Gerimax Indah, yang saat itu melakukan patroli subuh melihat belasan anak berkumpul di depan Lombok City Center (LCC).

Beberapa di antara mereka memegang kembang api dan petasan. Melihat situasi yang mencurigakan, Aiptu Arya langsung mendatangi lokasi. Dia kemudian membubarkan anak-anak yang tengah berkumpul.

”Mereka mau perang kembang api, antara Desa Dasan Tereng dan Gerimax Indah. Akhirnya dibubarkan Bhabinkamtibmas yang lagi patroli,” kata Kapolres Mataram AKBP Muhammad, kemarin.

Dalam pembubaran ini, petugas menahan seorang anak berinisial AL, warga Karang Sidemen, Lombok Tengah (Loteng). AL kedapatan membawa satu kembang api. Selain AL, petugas juga mengamankan 10 batang kembang api.

Kapolres mengatakan, petugas telah melakukan pembinaan terhadap AL. Ketika diamankan, yang bersangkutan disuruh memanggil orang tuanya untuk dijemput. ”Kita berikan juga pengertian kepada orang tuanya, agar anaknya bisa dibina,” jelas Muhammad.

Selain di Desa Gerimax Indah, perang mercon hampir terjadi di wilayah Kota Mataram. Kali ini melibatkan warga Dasan Sari dan Dasan Agung. Perang mercon batal karena kedatangan petugas Satsabhara Polres Mataram dan Polsek Ampenan.

Di dua lingkungan ini, polisi mengamankan empat orang. Tiga di antara mereka masih berusia 10 tahun hingga 14 tahun. Sementara, satu orang lainnya berumur 19 tahun. Keempatnya diduga sebagai peledak mercon.

”Empat-empatnya kita bina dan serahkan juga ke orang tua,” ucap Kapolres.

Menurut Kapolres, apa yang dilakukan anak-anak ini, perang mercon, tentu mengganggu kondusivitas keamanan. Bisa menimbulkan salah paham antara dua warga lingkungan atau desa. Imbasnya, bisa berujung pada konflik antar kampung.

Karena itu, kepolisian berharap ada peran orang tua juga untuk lebih ketat mengawasi anak-anaknya. Terutama saat malam Ramadan dan usai Salat Subuh. ”Kita minta juga orang tua lebih ketat mengawasi anak,” pesan dia.

Sebelum ini, Kapolres Mataram telah mengeluarkan maklumat mengenai larangan membunyikan petasan selama Ramadan. Meski terdapat maklumat, tidak sepenuhnya dijalankan warga Kota Mataram. Di sejumlah titik, masih terdengar bunyi petasan.

Dari pantauan Lombok Post, Jalan Udayana kerap terdengar ledakan petasan. Begitu juga di jalan baru Monjok. Di dua lokasi ini, menjadi lokasi favorit remaja dan anak-anak untuk membunyikan petasan.

Aktivitas itu rupanya mengganggu mengganggu warga sekitar dalam melaksanakan ibadah Ramadan. Apalagi, bunyi petasan kerap terdengar saat dini hari, di waktu orang-orang untuk beristirahat.

Melihat pelanggaran di depan mata, petugas langsung mengamankan peledak petasan, awal Juni ini. Ada 8 orang yang diamankan. Tujuh orang masih berusia anak, sedangkan satu orang lainnya telah berusia 18 tahun.

Dari 8 orang yang diamankan itu, 4 orang di antara mereka tertangkap tangan ketika meledakkan petasan di Jalan Udayana. Sedangkan empat orang lainnya, diamankan di wilayah Monjok dan Majeluk.(dit/r2)

Komentar

Komentar

Source link

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.