Wapres Dukung TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid Jadi Pahlawan Nasional | SUARANTB.com

Wapres Dukung TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid Jadi Pahlawan Nasional | SUARANTB.com

Jakarta (suarantb.com) – Wakil Presiden RI, Drs. H. M. Jusuf Kalla mendukung Maulana Syeikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid sebagai pahlawan nasional. Menurutnya, peran dan kiprah pendiri organisasi keagamaan terbesar di NTB, Nahdlatul Wathan (NW) tersebut tidak kalah dengan tokoh-tokoh muslim lainnya yang telah mendapatkan gelar pahlawan nasional.

“Saya yakin apa yang telah dilakukan TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid tak kurang dengan apa yang dilakukan tokoh-tokoh muslim tersebut. Memang Indonesia kaya dengan para ulama,” kata Wapres saat membuka seminar nasional dengan tema “Dari Nahdlatul Wathan untuk Indonesia, Jejak Perjuangan TGKH.M. Zainuddin Abdul Madjid (1940-1997)” yang digelar di Universitas Negeri Jakarta, Rabu, 5 April 2017.

Hadir dalam kesempatan tersebut Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Wakil Ketua DPR RI, H. Fahri Hamzah, SE, Wakil Ketua DPD RI, Prof. Farouk Muhammad, Rektor UNJ, Prof. Dr. Djaali, pejabat dari kementerian/lembaga, jajaran PBNW dan lainnya.

Wapres mengatakan, sebagai generasi penerus maka semua harus menghormati apa yang sudah dilaksanakan oleh para pendahulu. Dikatakan, setelah kemerdekaan dikenal dengan adanya pemberian gelar pahlawan nasional pejuang kemerdekaan.

Para pejuang yang diberikan gelar pahlawan nasional itu mereka yang ikut mengusir para penjajah secara militer. Namun, Presiden RI pertama, Ir. H. Soekarno mengatakan bahwa mereka yang menjadi pahlawan bukan hanya dilihat dari yang ikut mengangkat senjata dalam mengusir penjajah, tetapi yang berjuang melalui keilmuan dan dalam kemasyarakatan juga merupakan pahlawan.

“Rumusan pahlawan nasional itu sebenarnya sederhana tapi tentu tidak mudah. Yang diberikan gelar pahlawan nasional itu adalah yang dianggap heroik, perbuatan nyata yang dapat dikenang sepanjang masa bagi masyarakat. Tentu kita semua merasakan apa yang dilakukan TGKH. Zainuddin Abdul Madjid. Termasuk juga tak pernah melakukan perbuatan tercela,” kata Wapres.

Dalam kurun waktu 60 tahun ini, kata Wapres memang banyak yang telah diberikan gelar pahlawan nasional, setiap tanggal 10 November. Ia juga menyebutkan, dibandingkan provinsi lainnya di daerah Sunda Kecil, cuma NTB yang belum memiliki pahlawan nasional.

Sementara Bali, sudah memiliki lima pahlawan nasional. Kemudian NTT, sudah punya pahlawan nasional meskipun baru satu orang. Begitu juga provinsi lainnya seperti Sulawesi Selatan, memiliki 12 pahlawan nasional. Menurut Wapres, Jawa Timur (Jatim) yang memiliki pahlawan nasional paling banyak. “Tapi NTB baru diusulkan. Padahal tentu perjuangan NTB tak kurang dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia,”ucapnya.

Orang nomor dua di Indonesia ini menjelaskan, persoalan pemberian gelar pahlawan nasional kadang hanya persoalan administratif saja yang perlu dilengkapi. Ia menilai, perjuangan maulana syeikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid memberikan dampak bagi masyarakat di Pulau Lombok dan NTB.

TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid, selepas menimba ilmu di Makkah Arab Saudi dengan predikat cum laude kembali ke Lombok. Membangun daerah dan berjuang mengusir penjajah.

“Perbuatan nyata yang dapat dikenang dan diteladani sepanjang masa. Ratusan ribu madrasah dan pesantren dan santri yang dihasilkan. Bagaimana jasa almarhum kepada bangsa,” ujarnya.

Kehadiran semua pihak dalam seminar ini, lanjut Wapres menggambarkan apa yang telah diberikan almagfurullah kepada daerah dan bangsa. Diharapkan, usulan maulana syeikh menjadi pahlawan nasional dapat tercapai.

“Semoga nanti melalui tim penilai sehingga apa yang diniatkan tercapai. Itu harapan kita semua. Semoga dengan dengan pertemuan ini akan lebih membesarkan dan lebih memajukan NW termasuk kesatuannya. Kita harap ini menjadi ajang persatuan,” harapnya.

Sementara itu, Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi mengatakan kedatangan Wapres dalam seminar nasional ini menjadi dukungan yang kuat terhadap usulan TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid menjadi pahlawan nasional dapat berhasil. Ia mengatakan menurut almagfurullah maulana syeikh, antara keislaman dan keindonesiaan adalah dua hal yang satu tarikan nafas.

Diceritakan, sebelum Almagfurullah Maulana Syeikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid mendirikan organisasi NW, ketika kembali dari Makkah. Ini dilakukan dalam mengkonsolidasikan semangat juang. Sebelum Indonesia merdeka, almagfurullah membangun pusat perjuangan yang dinamakan Mushola Al Mujahidin.

“Di situlah beliau menggembleng santri-santri awal beliau, nilai keislaman dan kebangsaan. Berikutnya pada 1937, mendirikan NWDI, yang menjadi cikal bakal atau induk semua sekolah dan amal dakwah yang beliau jalankan sampai wafat Oktober 1997,” ujarnya.

Dalam setiap pengajian rutin yang dilakukan, terang cucu pendiri organisasi NW ini, sang kakek sering menjelaskan arti dibalik filosofi nama NW tersebut. Dimana, NW itu artinya kebangkitan negara.

“Dinamakan organisasi NW, karena berjuang untuk bangsa, itu juga artinya berjuang untuk agama. Berjuang untuk agama, pasti akan membawa kebaikan untuk bangsa. Jadi, semangat kebangsaan ini terus menerus beliau tanamkan pada murid-muridnya. Keislaman dan keindonesiaan adalah dua hal yang tak terpisahkan,” ucap Tuan Guru Bajang (TGB) – sapaan akrab gubernur.

Kokohnya nilai kebangsaan di daerah eks Sunda Kecil tak terlepas dari peran almagfurullah. Dulu, Bali, NTB dan NTT menyatu menjadi satu yang dinamakan Sunda Kecil. Jika dilihat Bali, mayoritas Hindu, NTB mayoritas muslim dan NTT mayoritas Krstiani.

“Tetapi ada keharmonisan. Di NTB, daerah yang disebut mayoritas muslim, penghayatan keislamannya sudah akrab dengan nilai kebangsaan. Beliulah yang salah satu berkontribusi terhadap kokohnya nilai kebangsaan di NTB,” terangnya.

Untuk itu, Pemprov berharap ikhtiar yang dilakukan selama ini akan berujung pengakuan pemerintah kepada almagfurullah Maulana Syeikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid sebagai pahlawan nasional. TGB mengatakan Wapres adalah orang yang tidak pernah mengatakan tidak untuk NTB.

Wapres termasuk orang yang konsen dalam penyelesaian pembangunan Lombok International Airport (LIA) dan KEK Mandalika. “Mudahan disempurnakan sehingga NTB memiliki pahlawan nasional,” harap orang nomor satu di NTB ini. (nas/*)

Source link

Recent search terms:

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.